Silalahi Ande-ande, Oleh: Dahlan Iskan

Minggu 28 Dec 2025 - 17:16 WIB
Reporter : Admin
Editor : Ab Gafur

Ketika meninggalkan Sidikalang, Jumat pagi lalu, mobil saya dikawal pikap: isinya durian Dairi. Kami pun menyusun jadwal perjalanan berikutnya. Utamanya di mana saja bisa berhenti mencicil menghabiskan durian di pikap itu.

Pemberhentian pertama: kampung Silalahi. Di tepi Danau Toba –nun di ujung barat danau sepanjang 110 km itu.

Perjalanan ke Silalahi mirip dengan perjalanan kami sehari sebelumnya. Yakni ketika kami ke patung Yesus di Sibea-bea. Untuk mencapai Silalahi kami harus menuruni gunung. Berliku. Dari ketinggian 1.600 meter ke 1.100 meter. Meliuk-liuk.

Mendekati tepian danau barulah datarannya agak landai. Mulailah terlihat bercuil-cuil tegal dan sawah. Lalu rumah-rumah kecil penduduk asli.

Inilah tepian Danau Toba sisi termiskin. Masuk Kabupaten Dairi. Petak sawahnya kecil-kecil. Secuil-secuil. Di sela-sela batu besar. Pun petak kebunnya. Penuh batu agak besar dan agak kecil.

Tanaman terlihat kurang subur. Mangga pun buahnya kecil-kecil –seperti tidak cukup hara untuk membuatnya sedikit lebih besar. Itulah Desa Silalahi: dipercaya sebagai muasal marga Silalahi. Terjepit antara danau di depannya dan gunung terjal di belakangnya.

Kami berhenti di tepian danau. Di gasebo-gasebo sederhana milik sebuah restoran keluarga Mayjen Polisi Purn Sihaloho. Kami permisi makan durian di situ. Tentu kami tahu diri: harus memesan ikan bakarnya dan sambal khas Bataknya. Kami sarapan sambil menunggu datangnya waktu salat Jumat.

Ikannya segar: dari keramba nila di tepian Danau Toba. Terlihat begitu banyak keramba mengapung di situ.

Pemilik resto punya teknik sendiri untuk membuat ikan keramba itu gurih. Dia bisa menghilangkan bau lumpur di ikan bakarnya. Caranya: tiga hari sebelum dibakar, ikan itu disuruh puasa dulu. Cara berpuasanya: setelah diambil dari keramba ikan dimasukkan kolam air tawar. Tidak diberi makan apa pun selama tiga hari. Dengan demikian nila tersebut menjalani detox selama tiga hari. Harapannya: sisa-sisa makanan keramba (pelet) terkuras habis dari perut dan ususnya.

Maka kalau semula kami memesan ikan bakar sebagai pematut untuk nebeng makan durian jadilah kebablasan. Ikan bakar itu ludes. Beserta sambal dan nasinya.

Akibatnya durian di pikap masih tersisa banyak. Harus menyusun jadwal baru di mana akan menghabiskannya. Perjalanan masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk membuat jalan kenangan.

Desa Silalahi sungguh berbatu. Tidak mungkin menjadi sumber kemakmuran –pun di masa depan. Maka keramba ikan itu masih merupakan sumber penghasilan penting.

Memang keramba bisa mengancam kelangsungan alami Danau Toba. Tapi sebelum ditemukan cara menghapus kemiskinan di pinggirnya rasanya sulit melarangnya.

Memang ada sumber penghasilan lain: menenun ulos Silalahi. Saya mampir ke tempat penenunan binaan Pemkab Dairi. Menantu Pak Iskan sangat menikmatinya –lalu menambah koleksi tenun dan ulosnya

Tapi tenun tetap sulit mendapat tempat di tengah murahnya produk tekstil modern. Itu hanya bisa dipakai alat bertahan. Tidak bisa dipakai sebagai jalan menuju kemakmuran.

Kalau pun mereka masih tertolong oleh ulos itu karena pegawai Pemkab Dairi wajib seragam ulos Silalahi seminggu sekali. Kampung Silalahi benar-benar terjepit antara danau dan gunung tebal di belakangnya.

Kategori :

Terkait

Senin 05 Jan 2026 - 21:44 WIB

Jane Moses, Oleh: Dahlan Iskan

Sabtu 03 Jan 2026 - 16:37 WIB

Jalur Kekeluargaan, Oleh: Dahlan Iskan

Jumat 02 Jan 2026 - 17:14 WIB

Hitung Mundur, Oleh: Dahlan Iskan

Kamis 01 Jan 2026 - 19:20 WIB

Tahun Pertaruhan, Oleh: Dahlan Iskan

Rabu 31 Dec 2025 - 14:55 WIB

Bintang 2025, Oleh: Dahlan Iskan