Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Desa Rawan Bencana di Rejang Lebong Diminta Mandiri Bentuk Destana

Kondisi banjir di SBI Rejang Lebong-ist-

BACAKORANCURUP.COM - Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong menyoroti masih minimnya jumlah Desa Tanggap Bencana (Destana) di wilayah rawan banjir dan longsor. Dari ratusan desa dan kelurahan yang ada, baru sebagian kecil yang dinilai siap secara kelembagaan dan anggaran dalam menghadapi potensi bencana. 

Bupati Rejang Lebong H. M. Fikri, S.E., M.AP menegaskan, keterbatasan anggaran daerah tidak boleh menjadi alasan lemahnya kesiapsiagaan desa. Ia mendorong desa-desa yang masuk kategori rawan bencana untuk mengalokasikan anggaran secara mandiri guna membentuk dan memperkuat Destana.

“Jumlah desa rawan bencana cukup banyak, tetapi yang sudah menjadi Destana masih sangat sedikit. Karena keterbatasan APBD, desa yang berada di titik rawan harus mulai mengupayakan anggaran sendiri,” ujar Fikri.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, dari 156 desa dan kelurahan, baru 13 desa/kelurahan yang berstatus Destana. Padahal, sekitar 43 desa/kelurahan tercatat berada di kawasan rawan bencana, khususnya banjir dan longsor. Kondisi ini dinilai cukup prihatin, mengingat tren cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang terus meningkat.

BACA JUGA: Portal Jalan di Kelurahan Air Bang Rusak Diterobos Truk Tangki BBM

BACA JUGA: Antisipasi Banjir, Bupati Rejang Lebong Bakal Libatkan Sispala Hijaukan DAS Kritis

Tanpa kesiapan berbasis desa, penanganan bencana dikhawatirkan akan selalu bersifat reaktif dan bergantung pada intervensi pemerintah daerah. Kepala BPBD Rejang Lebong, M. Budianto, MT, menyebutkan bahwa pembentukan Destana sebenarnya telah lama didorong pemerintah pusat. Bahkan, sejak 2020, desa telah diberikan ruang melalui regulasi penggunaan Dana Desa untuk kegiatan mitigasi dan penanggulangan bencana.

“Secara aturan, desa yang rawan bencana sudah bisa menganggarkan Destana dari Dana Desa. Tinggal bagaimana komitmen pemerintah desa dalam menempatkan mitigasi bencana sebagai prioritas,” jelasnya.

Destana sendiri berfungsi sebagai ujung tombak penanganan bencana di tingkat desa, mulai dari edukasi kebencanaan, pemetaan risiko, hingga respons awal saat bencana terjadi. Keberadaan Destana dinilai krusial untuk menekan korban jiwa dan kerugian materi. Pemkab Rejang Lebong berharap ke depan desa-desa rawan bencana tidak lagi menunggu dorongan dari atas, melainkan aktif membangun sistem kesiapsiagaan sendiri demi melindungi warganya dari ancaman bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi. 

BACA JUGA:PAD Pariwisata Tahun 2025 Tak Capai Target

BACA JUGA:Setahun MBG Sasar 55 Juta Penerima Manfaat, Prabowo: Minta Nol Kesalahan

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan