Sampah Menumpuk Disejumlah Titik Lantaran Masalah Ini!
titik sampah-ist-
BACAKORANCURUP.COM - Persoalan sampah kembali menjadi pemandangan memprihatinkan di Kabupaten Rejang Lebong pada awal tahun 2026. Volume sampah di sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dilaporkan terus menumpuk hingga menyerupai gunung.
Mirisnya, sampah tak hanya terlihat di TPS, tetapi juga meluber ke jalan protokol, jalan lingkungan, bahkan hampir di setiap persimpangan jalan. Kondisi ini memunculkan kesan seolah-olah sampah tidak lagi diangkut secara rutin oleh petugas kebersihan. Di sejumlah titik, sampah terlihat dibiarkan berhari-hari, memicu bau menyengat dan potensi gangguan kesehatan masyarakat.
Koordinator Pengawas Armada Sampah Kabupaten Rejang Lebong, Ruslan Carter, mengakui kondisi tersebut dipicu oleh keterbatasan armada dan personel yang saat ini jauh dari ideal.
“Setiap harinya, volume sampah yang dihasilkan masyarakat Rejang Lebong minimal mencapai 80 ton. Sementara armada yang bergerak tidak sampai 50 persen, dan personel aktif hanya 21 orang,” ungkap Ruslan saat dikonfirmasi.
BACA JUGA: Indonesia Krisis Dokter, Ini Keterangan Menkes RI
BACA JUGA: Pilihan Baru, Oleh: Dahlan Iskan
Ia menjelaskan, dari total 16 unit armada pengangkut sampah, saat ini hanya 7 armada yang beroperasi. Sedangkan 9 armada lainnya dikembalikan ke UPTD untuk nantinya difungsikan oleh pihak kecamatan.
“Dengan hanya 7 armada yang beroperasi, masing-masing armada diisi 3 personel. Jadi total personel aktif hanya 21 orang. Sisanya saat ini dirumahkan dan masih dalam proses menuju sistem outsourcing,” jelasnya.
Tak hanya persoalan armada dan tenaga, keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi kendala serius. Ruslan menyebutkan, pengangkutan sampah saat ini hanya bisa dilakukan satu kali dalam sehari karena keterbatasan BBM yang tersedia.
“Karena kondisi ini, kami diperintahkan untuk memprioritaskan pengangkutan sampah di titik-titik vital terlebih dahulu, seperti pasar dan pusat aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Situasi tersebut jelas belum mampu mengimbangi volume sampah harian yang terus meningkat. Akibatnya, penumpukan tak terelakkan dan menyebar ke berbagai kawasan pemukiman. Keluhan pun datang dari warga. Heru, salah seorang warga Curup, mengaku sudah hampir sepekan sampah di lingkungannya tidak diangkut.
“Sudah seminggu ini mobil sampah tidak masuk ke tempat kami. Sampah menumpuk, bau menyengat. TPS terdekat juga tidak ada, jadi harus buang ke pasar, jaraknya jauh,” keluhnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin membuat warga kecewa karena selama ini tetap rutin membayar iuran kebersihan setiap bulan.
“Kami bayar iuran, tapi pelayanan seperti ini terus terulang tiap tahun. Kami minta pemerintah serius menyelesaikan masalah sampah ini, jangan cuma jadi persoalan musiman,” tegas Heru.