Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Benarkah Mangga Berbahaya Bagi Diabetes ? Simak Temuan Klinis Terbaru

IST Buah mangga--

Hasilnya mengejutkan, terjadi perbaikan nyata pada berbagai indikator kesehatan, mulai dari glukosa puasa, HbA1c, resistensi insulin, berat badan, lingkar pinggang, hingga kadar kolesterol baik (HDL).

Prof. Anoop Misra, pemimpin studi, menegaskan bahwa temuan ini menjadi bukti kuat pertama mengenai manfaat konsumsi mangga dalam diet diabetes, asalkan dengan jumlah yang tepat.

“Namun, kuncinya ada pada moderasi dan pengawasan medis. Temuan ini tidak berarti pasien boleh makan mangga tanpa batas,” jelasnya.

Ia mencontohkan, jika kebutuhan energi harian seseorang adalah 1.600 kalori, maka kalori dari mangga harus dihitung sebagai bagian dari total, bukan tambahan.

Satu buah mangga kecil seberat 250 gram mengandung sekitar 180 kalori, sehingga harus menggantikan porsi karbohidrat lain, bukan ditambahkan di atasnya.

Dr. Rahul Baxi pun menyarankan agar pasien diabetes tidak perlu menghindari mangga sepenuhnya. Menurutnya, kunci terletak pada kontrol porsi. Ia biasanya menganjurkan pasien menikmati setengah porsi mangga (setara 15 gram karbohidrat), satu hingga dua kali sehari, jika kadar gula darah dalam kondisi terkendali.

Selain itu, Baxi juga menekankan waktu dan kombinasi makanan. Mangga sebaiknya dikonsumsi di antara waktu makan, bukan sebagai pencuci mulut setelah makanan berat.

Lebih baik jika dipadukan dengan sumber protein atau serat, sehingga penyerapan gula lebih lambat. Sebaliknya, mangga tidak disarankan dimakan bersamaan dengan nasi, roti, jus buah, atau milkshake yang dapat meningkatkan lonjakan gula darah secara drastis.

Dari hasil penelitian terbaru, jelas bahwa mangga tidak lagi bisa dipandang hitam-putih sebagai musuh penderita diabetes. Dalam takaran yang wajar, buah tropis ini bahkan bisa menjadi bagian dari pola makan sehat. Namun, tetap ada syarat penting, yaitu disiplin porsi, keseimbangan kalori, dan pengawasan medis.

Dengan kata lain, mangga bukanlah “penyembuh ajaib,” tetapi juga bukan “buah berbahaya.” Ia hanyalah makanan yang, bila diposisikan dengan benar dalam diet, mampu memberikan kenikmatan sekaligus manfaat kesehatan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan