Kenapa Gen Z Sering Menatap Kosong ? Ini Penjelasan Pakar Sosial
IST Fenomena Gen Z Stare--
1. Pengaruh pandemi dan teknologi digital
Sebuah laporan dari Stanford University yang dikutip oleh ABC News (16/7/2025) mengungkapkan bahwa Gen Z adalah generasi pertama yang sejak awal hidupnya tidak pernah terlepas dari dunia digital. Masa remaja mereka diwarnai oleh penggunaan internet, media sosial, dan interaksi daring yang intens. Terlebih lagi, pandemi Covid-19 memperparah keterbatasan interaksi sosial secara langsung karena karantina wilayah dan pembelajaran jarak jauh.
Mark McCrindle, seorang peneliti sosial, menjelaskan bahwa Gen Z cenderung memprioritaskan efisiensi dan kepraktisan dalam komunikasi.
Mereka terbiasa mengekspresikan emosi melalui emoji, GIF, atau teks singkat, dan bukan melalui bahasa tubuh atau mimik wajah.
Sementara itu, Barry Garapedian, presiden firma konsultan MAG7 di Amerika Serikat, menambahkan bahwa kebiasaan Gen Z yang terbiasa menatap layar membuat mereka sering merasa cemas ketika harus menanggapi sesuatu secara spontan di kehidupan nyata.
Mereka lebih fokus memikirkan respons yang tepat, daripada memberi jawaban secara natural.
2. Kurangnya pengalaman sosial langsung
Jean Twenge, pakar generasi dari San Diego State University, menyoroti bahwa minimnya interaksi tatap muka selama masa remaja mengakibatkan keterbatasan dalam keterampilan sosial Gen Z. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, berinteraksi secara digital, dan jarang menghadapi situasi sosial yang kompleks secara langsung.
Hal ini mempersempit kemampuan mereka dalam membaca emosi orang lain, menyesuaikan ekspresi wajah, dan memahami konteks percakapan secara cepat.
Tatapan kosong pun bisa menjadi mekanisme pertahanan atau reaksi default saat mereka merasa bingung, tidak nyaman, atau tidak yakin bagaimana harus merespons secara sosial.
McCrindle menambahkan, situasi semacam ini semakin sering muncul di lingkungan kerja, khususnya ketika Gen Z harus berhadapan dengan istilah atau kebiasaan dari generasi sebelumnya, misalnya saat pelanggan memesan "susu malt" alih-alih "milkshake", yang kini lebih umum digunakan.
3. Kesenjangan komunikasi di dunia kerja