Job Hopping Jadi Gaya Kerja Gen Z, Tantangan Baru Bagi Perusahaan ?
Job Hopping di dunia kerja gen z--
2. Kurangnya Pengakuan atas Kontribusi
Gen Z dibesarkan di era media sosial yang serba cepat dalam memberi apresiasi, mulai dari "likes" hingga komentar instan. Pola ini mempengaruhi cara mereka memandang penghargaan di dunia kerja.
Mereka tidak puas hanya dengan diamnya atasan sebagai tanda kinerja baik. Apresiasi yang tulus, baik dalam bentuk ucapan terima kasih, feedback konstruktif, atau kesempatan mempresentasikan hasil kerja, bisa menjadi motivasi besar.
Sayangnya, banyak perusahaan masih menggunakan pola lama, di mana karyawan yang tidak dimarahi dianggap sudah bekerja dengan baik. Bagi Gen Z, pendekatan ini justru membuat mereka merasa kontribusinya tidak berarti.
3. Minimnya Peluang Pengembangan Karier
Gen Z sangat sadar bahwa dunia kerja bergerak cepat dan keterampilan yang relevan hari ini bisa usang besok. Oleh karena itu, mereka mengutamakan perusahaan yang memberikan akses pada pelatihan, program pengembangan diri, mentoring, dan jalur promosi yang jelas.
Jika perusahaan tidak memberikan peluang ini, mereka akan merasa stagnan. Bahkan jika gaji cukup tinggi, stagnasi dianggap sebagai sinyal untuk mencari lingkungan baru yang dapat memperkaya keterampilan dan membuka jalur karier yang lebih luas.
4. Ketidaksesuaian Nilai Pribadi dan Budaya Perusahaan
Generasi Z memiliki kesadaran sosial dan lingkungan yang tinggi. Mereka peduli pada isu keberlanjutan, keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan inklusivitas.
Jika perusahaan mengabaikan isu-isu tersebut, misalnya membiarkan budaya kerja toxic, menuntut jam kerja berlebihan, atau tidak peduli pada dampak lingkungan, mereka akan merasa berada di tempat yang salah.
Laporan IBM Institute for Business Value (2023) menemukan bahwa 68% Gen Z memilih bekerja di perusahaan yang sejalan dengan nilai hidup mereka.
Artinya, bagi Gen Z, pekerjaan bukan hanya soal gaji, tapi juga makna dan dampak positif yang dihasilkan bagi masyarakat maupun dunia.
Bagi perusahaan, tingginya tingkat perpindahan karyawan dari kalangan Gen Z memang menjadi tantangan, terutama dari segi biaya rekrutmen dan pelatihan.
Namun, jika dipandang dari sisi positif, fenomena ini juga bisa menjadi pemicu perusahaan untuk lebih adaptif dan inovatif dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, suportif, dan relevan dengan generasi baru.
Bagi Gen Z sendiri, berpindah pekerjaan bukan berarti tidak setia. Justru, langkah ini sering kali merupakan bentuk keberanian untuk mencari lingkungan yang lebih sesuai dengan visi, nilai, dan potensi diri.