Mitos atau Fakta, Benarkah Ibu Hamil Harus Hindari Kacang dan Seafood ?
IST Kacang-kacangan--
BACAKORANCURUP.COM - Alergi menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin banyak ditemui dari tahun ke tahun. Baik pada orang dewasa maupun anak-anak, jumlah kasusnya terus mengalami peningkatan. Kondisi ini membuat para orang tua, khususnya Mama yang sedang hamil atau menyusui, semakin berhati-hati dalam memilih makanan.
Namun menariknya, panduan terbaru mengenai pencegahan alergi justru mengalami perubahan besar dibandingkan anjuran beberapa tahun lalu.
Dulu, ibu hamil dengan riwayat alergi atau sedang mengandung anak dengan bakat atopi sering kali diminta untuk menghindari makanan yang dianggap berisiko, seperti kacang-kacangan, telur, hingga seafood. Kekhawatiran utama adalah makanan tersebut bisa memicu alergi pada bayi setelah lahir. Namun kini, rekomendasi tersebut telah dibalik sepenuhnya.
BACA JUGA:Sendok Kayu Kembali Jadi Favorit, Aman atau Tidak untuk Memasak ?
BACA JUGA:Ingin Resign dari Magang Nasional 2025 ? Ini Langkah-Langkah Resmi dari Kemnaker
Para pakar mengatakan bahwa justru paparan beragam makanan selama kehamilan dapat membantu bayi membangun toleransi sejak berada dalam kandungan.
Penjelasan mengenai perubahan besar ini disampaikan dalam unggahan Reels @dryunianak, yang merangkum pendapat dari Prof. Dr. dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A, Subsp. A.Im(K), M.Kes., seorang ahli alergi dan imunologi anak.
1. Ibu hamil berisiko alergi dianjurkan mengonsumsi makanan yang lebih bervariasi
Jika dulunya ibu hamil dengan risiko alergi dilarang makan kacang, seafood, atau makanan sejenisnya, kini panduan tersebut tidak lagi digunakan. Prof. Budi menjelaskan bahwa pendekatan lama justru kurang efektif dalam menurunkan risiko alergi bayi. Saat ini, ibu hamil justru disarankan mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk yang sebelumnya dianggap pemicu alergi.
Beragam paparan makanan selama kehamilan dipercaya dapat memperkenalkan alergen kepada bayi sejak dini dalam kadar yang aman. Tubuh janin akan belajar mengenali berbagai zat tersebut sehingga sistem kekebalannya dapat memahami bahwa makanan itu bukan ancaman. Dengan kata lain, semakin banyak variasi makanan yang dikonsumsi ibu hamil, semakin besar peluang anak membentuk toleransi terhadap alergen.
Prof. Budi mengatakan bahwa dulu ibu hamil yang mengandung anak dengan bakat atopi "tidak boleh makan kacang-kacangan atau seafood karena takut anaknya lahir dengan alergi." Namun kini, ia menegaskan bahwa "selama hamil, justru wajib makan segala macam, termasuk kacang-kacangan dan seafood, agar janin diperkenalkan pada berbagai jenis makanan."
2. Tidak ada pantangan makanan untuk ibu menyusui
Perjalanan membangun toleransi alergi tidak berhenti saat bayi lahir. Ketika memasuki masa menyusui, Mama tetap dianjurkan makan bebas tanpa pantangan khusus. Paparan alergen akan diteruskan melalui ASI secara alami dan aman. Bayi mendapatkan kesempatan untuk mengenal berbagai jenis makanan tanpa harus mengonsumsinya langsung.
Pendekatan ini diyakini mampu membantu bayi bertahap membangun toleransi. Melalui ASI, bayi mendapat paparan dalam jumlah kecil namun konsisten, dan hal ini sangat efektif untuk mengurangi risiko alergi saat mereka tumbuh.