Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Mendadak Menteri, Oleh: Dahlan Iskan

ist Mendadak Menteri.--

Pun Bashir. Ia memilih Ash-Sharaa sebagai presiden. Begitu Ash Sharaa terpilih Bashir justru menyatakan berhenti sebagai perdana menteri. Bahkan menghapus jabatan perdana menteri. Maka tidak akan ada matahari kembar di pemerintahan baru. 

Bashir pilih ''hanya'' jadi menteri. Bulan lalu ia bubarkan Kementerian Listrik, Kementerian Gas Minyak Bumi dan Kementerian Sumber Daya Air. Tiga kementerian itu ia lebur jadi satu: menjadi kementerian energi. 

Meski sangat mendadak saya bisa bertemu beliau. Diantar oleh Duta Besar Wajid Fauzi. Menteri Bashir orangnya berwibawa. Dahinya lebar sampai hampir ke ubun-ubun. Tatapan matanya sangat tajam dan cendekia. Bicaranya to the point –gaya kesukaan saya. 

Gedung kementerian itu di atas bukit tinggi. Sebagian kota Damaskus memang pegunungan. Dataran rendahnya sendiri sudah 600 meter di atas permukaan laut. 

Gedungnya tinggi –sekitar 12 lantai. Itu bekas gedung perusahaan minyak negara. Lobi kantornya sederhana. Tidak ada penjagaan tentara. Di luar maupun di dalam gedung. Bahkan rombongan Pak dubes dan saya ini tidak perlu melewati pintu detektor. Padahal Gus Najih membawa ransel. Itu menandakan begitu percayanya pemerintah baru Syria pada Indonesia. 

Saya sendiri tidak menyangka bisa menghadap menteri penting begitu mendadak. Tidak mungkin seorang duta besar bisa mendadak membuat janji seperti itu –tanpa hubungan yang sangat baik. Padahal saya telanjur tidak membawa baju berkerah. Pakaian yang saya bawa hanya kaus panjang, kaus pendek, dan kaus dalam. 

"Pak dubes, bolehkah saya pinjam baju batik bapak?" pinta saya sebelum berangkat ke Kementerian Energi. 

"Tentu dengan senang hati," katanya. "Kami siapkan tiga pilihan. Kebetulan ukuran kita kelihatannya sama," tambah Dubes Wajid. 

Pulang dari kementerian, saya berniat mengembalikan baju itu. Begitu melihat mimik saya Pak dubes sudah bicara duluan. "Nggak usah dikembalikan. Cocok sekali kok," katanya. 

Saya tersipu. Dalam hati senang juga dapat baju gratisan. Tapi ada pesan sponsor: saya harus memakainya sekali lagi keesokan harinya. Yakni saat diajak pertemuan dengan pengurus Kadin Syria –di sana hanya disebut Kamar Industri, tanpa dagang. Itu menandakan betapa pentingnya industrialisasi. 

Tidak hanya sekali lagi. Hari ketiga batik itu saya pakai lagi ke Lebanon: saya harus mendadak tampil di satu forum ekonomi yang diadakan Duta Besar Lebanon yang baru: Dicky Komar. 

Maka dua hari itu saya tidak perlu cuci kaus. Baru kali ini saya merasakan betapa saktinya batik –tipis tapi sudah dianggap resmi. Rasanya akan ada perusuh Disway yang menilai saya lebih ganteng pakai batik pinjaman daripada batik milik saya sendiri. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan