Amang Waron, Oleh: Dahlan Iskan
dahlan iskan--
Amang sudah menemukan empat dokter jagoan yang ia inginkan. Rencanya kelak bisa 11 orang. Empat jagoan itu tidak diperlakukan sebagai karyawan. Atau anak buah. Empat-empatnya diminta sebagai partner usaha. Caranya, empat dokter itu masing-masing mendirikan perusahaan. Dokter Amang ikut punya saham di empat perusahaan tersebut.
Masing-masing perusahaan boleh membawa merek mereka sendiri-sendiri ke RS Waron. Boleh pula mengembangkan merek semaksimal mungkin --tidak harus merek Waron yang dikibarkan. Misalnya di lantai 7: ada The Cell. Ditulis dengan huruf besar. Perusahaan The Cell milik bersama Prof Dr Brahmana dan Amang --atau PT-nya Amang.
The Cell bergerak di bidang ongkologi --Brahmana adalah ahli kandungan yang juga ahli kanker. The Cell sudah seperti rumah sakit kanker dengan ukuran satu lantai. Lalu di lantai lain ada merek Falma. Pemilik perusahaan Falma adalah dr Fransiscus Hari Prasetyadi SpOG Subsp FM. Bergerak di bidang kehamilan. Pemegang saham Falma adalah dr Fransiscus bersama Amang. Falma sudah seperti rumah sakit khusus obgin dengan ukuran satu lantai.
Ada lagi merek Asha --kabarnya singkatan dari Amang Surya dan Haji Ali. Di perusahaan Asha, pemegang sahamnya Haji Ali dan Amang. Perusahaan Asha bergerak di bidang bayi tabung.
Perusahaan-perusahaan itu menyewa tempat di RS Waron. Fasilitas mereka ditangani oleh perusahaan rumah sakit. Rumah sakit itulah yang sepenuhnya milik Amang dan istri --seorang dokter forensik asal Lampung; berdarah Lampung-Minang.
Datangnya mimpi Amang seperti itu muncul dari penderitaan sedalam masa kecilnya. Ayahnya sopir. Punya anak enam --Amang anak keenam. Ayahnya meninggal ketika Amang baru berumur 2,5 tahun. Ia anak yatim. Kelahiran Jember.
Dengan segala upaya ia bisa kuliah di Surabaya: Unair. Di pondokan ia satu kamar dengan anak senasib dari Jember: kini terkenal dengan nama Prof Dr Dwikora --ahli ortopedi lulusan Unair-Jepang.
Amang sendiri mendapatkan spesialis kandungan dari Universitas Sriwijaya, Palembang. Lalu kembali ke Unair untuk S-3. Keahlian bayi tabungnya didapat dari berbagai pendidikan di banyak negara. Amang suka bergurau soal mengapa lulusan Unair kuliah spesialis jauh-jauh ke Unsri. "Kalau mendaftar di Unair saya pasti tidak diterima," katanya. "Saya harus tahu diri. Saya baru bisa lulus jadi dokter lewat ujian ulangan," katanya.
"Kalau Amang lulus terbaik tidak akan jadi pengusaha sukses seperti sekarang," komentar dr Gregorius Agung Himawan
lulusan terbaik Unair di angkatannya. Ia sekaligus terbaik se-Indonesia tahun itu.
"Justru kami-kami yang lulus terbaik ini yang sekarang ditolong dokter Amang," guraunya.
Amang jadi pengusaha karena dendam. Bukan karena pernah ujian ulang. Di samping dendam kemiskinan juga dendam profesi. Ia mimpi dokter harus punya rumah sakit yang terbaik. Untuk menjadi yang terbaik itulah Amang merekrut lulusan-lulusan terbaik. Ia tidak menerima dokter yang ketika lulus lewat ujian ulang.
Sebagai ahli kandungan rumah sakitnya punya keistimewaan di bidang itu. Termasuk di bayi tabung. Amang membelikan alat terbaik untuk para juara itu. Misalnya Prof Dr Brahmana ia belikan robot. Belum banyak rumah sakit di Indonesia yang operasi pakai robot. Baru ada lima. Semua di Jakarta. Di Surabaya Waron-lah yang akan pertama.
Pekan lalu Brahmana dikirim ke Beijing. Bersama empat orang timnya. Mereka ke produsen robot. Merk EDGE. Made in China. Pun untuk robot operasi Tiongkok sudah jadi produsen. Sebenarnya Brahmana sudah bisa menggunakan robot untuk operasi kandungan. Pernah pakai merek lain. Tapi karena Waron akan membelikannya EDGE ia harus dilatih. "Ibaratnya kami ini sudah jadi pilot pesawat Boeing. Ketika akan menjalankan pesawat lain harus dilatih lagi," gurau Brahmana.
Pulang dari Beijing Brahmana menulis artikel untuk grup ahli kandungan. Ia ceritakan pengalamannya mengoperasikan robot made in China itu. "Sudah tidak kalah dengan bikinan Amerika," katanya. "Padahal harganya hanya sepertiganya", tambahnya.