Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

New Rhun, Oleh: Dahlan Iskan

New Rhun, Oleh: Dahlan Iskan-ist-

"Rokok adalah teman satu-satunya di tengah laut," ujar Kamaruddin seperti ingin agar saya memahami kesendiriannya. Ia selalu sendirian ke tengah laut. Pagi berangkat, sore pulang. Tuna besar hasil tangkapannya dijual ke Pulau Banda –45 menit dari Rhun. Tidak ada pedagang ikan yang punya cold storage di pulau Rhun.

Membeli bensin pun harus ke Pulau Banda. Saat jual ikan itu sekalian mampir beli Pertamax: satu liter Rp 18.000.

Nelayan di Pulau Rhun tidak ada yang miskin. Rumah mereka bata. Buatan sendiri. Batanya terbuat dari pasir dan semen. Harga semen Rp 110.000/sak.

 

Rumah Kamaruddin hanya berukuran sekitar 6x12 meter, tapi sangat baik. Keramiknya mengilap. Bersih. Catnya rapi. Pengerjaan rumah ini tidak asal-asalan. Plafonnya juga dikerjakan dengan sangat baik. Finishing-nya mengalahkan bangunan masjid Negara di IKN.

 

Hampir semua rumah di Rhun seperti itu. Tidak ada yang kumuh. Pekarangan rumah mereka meski sempit tapi rapi. Kelihatan selalu disapu.

Kamaruddin sudah 20 tahun di Rhun. Ia masih lahir di Buton. Istrinya yang sudah kelahiran Rhun. Mereka punya satu anak, wanita, yang baru lulus SMA. Dia akan kuliah di jurusan sejarah Sekolah Tinggi Banda Naira.

Nelayan di Rhun punya dua jenis penghasilan: suami cari ikan di laut, istri memetik pala di kebun. Kalau sedang tidak musim pala –pohon pala berbuah tiga kali setahun– mereka mencari biji kenari yang berceceran di sekitar pohonnya yang menjulang tinggi.

Kenari tidak pakai musim. Selalu ada biji kenari yang jatuh ke tanah setelah dagingnya dimakan kelelawar. Kadang ketika kelelawar baru sedikit memakan dagingnya buah kenarinya sudah jatuh ke tanah.

Di kebun pala memang selalu ada pohon kenari. Disengaja seperti itu. Fungsi pohon kenari untuk menahan angin agar tidak merusak pohon pala. Juga sebagai pelindung panas untuk pohon pala yang masih kecil.

Maka banyak rumah di Rhun yang di halamannya ada jemuran pala dan kenari. Dua jam saya berada di ''Manhattan''-nya Maluku. Ternyata beginilah Rhun yang saya impikan itu.

Rhun yang di Kepulauan Banda itu kini memang tidak gegap gempita seperti Manhattan di New York. Tapi penduduk Rhun kelihatan damai, rukun, dan tidak perlu tergesa-gesa mengejar kereta bawah tanah untuk ke tempat kerja.

Bedanya hanya satu: penduduk Rhun bermimpi bisa ke New York, penduduk New York tidak bermimpi bisa ke Rhun. Ups...tidak. Penduduk Rhun tidak bermimpi ke New York. Mereka lebih bermimpi ke Makkah.(Dahlan Iskan)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan