Wani Tenan, Oleh: Dahlan Iskan
Wani Tenan, Oleh: Dahlan Iskan-Ist-
Dengan adanya AI, penipuan itu lebih banyak lagi. Penipu ada yang mengaku petugas pajak. Atau mengaku pegawai bank. "Bahkan bos BCA sendiri, Pak Armand Hartono, dijadikan objek AI untuk menipu," ujarnyi.
Wani lantas memutar video di layar lebar. Ada sosok Armand muncul di layar. Sosok Armand itu memperkenalkan diri sebagai pemilik Bank BCA dan anak orang terkaya di Indonesia. Si ''Armand'' lantas mengatakan akan bagi-bagi uang Rp 20 juta. "Padahal sosok Armand di video itu rekaan AI," ujar Wani.
"Pak Armand tidak akan pernah mengatakan anak orang terkaya," katanyi.
"AI bikinan orang sini sebenarnya gampang diketahui. Banyak tidak samanya dengan tokoh yang jadi objek," ujarnyi. "Kalau di negara lain hasil AI itu bisa persis aslinya," tambahnyi.
AI memang kian sempurna. Maka meningkat pula penipuan lewat love scam. Sudah tidak ada lagi penipuan gaya ''mama minta pulsa''. love scam terjadi di mana-mana. Sampai banyak yang jatuh cinta pada sosok wanita cantik yang muncul dan mengajak bicara di layar HP. "Padahal wanita cantik itu bikinan AI," kata Wani.
Disertasi Wani lantas menawarkan pola baru dalam penanganan penipuan lewat bank: Cobra Index. Istilah yang dia ciptakan itu terasa sangat nendang. Dilengkapi logo pula: gambar kepala ular kobra yang sedang siap mematuk mangsa.
Cobra-nya Wani adalah singkatan: Collaborative Policing Readiness in Banking Cybercrime Assessment. Intinya penanganan atas pengaduan tidak bisa lagi seperti selama ini. "Kejahatannya seperti lari pakai Ford, penanganannya seperti naik angkot," kata Wani.
Penanganan selama ini, kata Wani, masih berbasis ad hoc. Juga hanya karena adanya hubungan personal yang baik. Belum berbasis kolaborasi antar lembaga. Enam lembaga yang terkait itu punya wewenang sendiri-sendiri, kadang tumpang tindih. Masing-masih juga punya ego sektor sendiri-sendiri.
Enam lembaga itu antara lain kepolisian, kejaksaan, Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian komunikasi dan digital. "Kepolisian, misalnya, bisa menindak orangnya, tapi yang bisa memblokade situsnya adalah Komdigi," katanyi.
Maka, atas pertanyaan tim penguji, Wani mengusulkan perlunya terbit sejenis Surat Keputusan Bersama antar enam lembaga itu.
Lalu siapa yang akan jadi leader di enam lembaga itu? "Saya tidak menyebutnya leader tapi sebagai dirijen yang mengorkestrasi enam lembaga. Yaitu kepolisian," ujar Wani.
"Kalau Anda diberi wewenang untuk merealisasikan Cobra, bagaimana cara melaksanakannya?" tanya seorang guru besar penguji.
Wani menyebut perlu tiga tahapan. Pertama, membangun fondasi. Mulai dari melahirkan SKB, menyepakati pembagian wewenang sampai memperjuangkan UU Siber sebagai lex specialist. Tahap ini perlu waktu 1,5 sampai dua tahun.
Kedua, standardisasi kualitas kompetensi di enam lembaga. Ini juga perlu dua tahun. Ketiga, evaluasi lima tahunan agar Cobra Index terus bisa memperbaiki diri. Dengan Cobra Index tingkat pengembalian penipuan bisa lebih besar. "Selama ini tingkat pengembalian itu hanya lima persen," kata Wani.
Kini, setelah kuliah S-3 selama dua tahun delapan bulan, Wani bergelar doktor ilmu kepolisian ahli kolaborasi. Dia jadi ilmuwan bidang yang paling sulit dilaksanakan di Indonesia: kerja sama dan kolaborasi.