Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Icip-Icip Galeri. Oleh: Dahlan Iskan

Icip-Icip Galeri. Oleh: Dahlan Iskan -ist-

Maka saya cepat-cepat menulis apa saja. Kebetulan masih ada satu bahan yang ingin saya tulis: museum masa kecil Bung Karno di Mojokerto.

Sewaktu tur bisnis pekan lalu kami mampir ke museum itu. Yakni setelah dari museum Gubug Wayang. Museum Bung Karno ini tidak mau disebut museum: namanya galeri. Lokasinya di dalam Sekolah Dasar Negeri Purwotengah. Di situlah Soekarno, proklamator dan presiden pertama Indonesia sekolah tingkat Ongko Loro.

 

Dari luar, bangunan itu tampak seperti SD pada umumnya. Setelah masuk ke halamannya barulah terlihat ada patung kecil di halaman itu: patung Bung Karno saat sekolah di situ. Ukurannya kelihatannya hanya sedikit lebih besar dari Bung Karno: 2,5 meter. Pakaiannya khas: bawahannya jarit, atasannya jas, dasinya kupu-kupu, dan penutup kepalanya blangkon. Tangan kanan menuding ''di sini'', tangan kiri merengkuh buku tebal.

Bung Karno lahir di mana?

Buku sejarah di sekolah menyebutkan BK lahir di Surabaya.

Konotasinya, kata ''Surabaya'' di situ adalah kota Surabaya sekarang. Padahal secara administrasi yang dimaksud Surabaya zaman itu meliputi Surabaya sampai Mojokerto dan Jombang.

Galeri ini tidak terasa museum karena hanya menggunakan ruang-ruang kelas yang ada: lima kelas. Materi yang dipajang sebenarnya cukup baik: perjalanan BK sejak di dalam kandungan, dilahirkan sampai sekolah di situ.

Ada juga miniatur karya-karya monumental BK yang dipajang terbalik di langit-langit ruangan: Monas, masjid Istiqlal, gedung DPR-MPR, Hotel Indonesia, dan patung Pancoran.

Lalu ada lukisan unik terbuat dari benang hitam yang ditarik ke segala arah yang kalau dilihat dari sisi lain ruang itu tergambar wajah Bung Karno. Saya pelototi siapa pelukisnya: tidak ketemu.

 Di ruang terakhir dipajang bangku-bangku SD zaman dulu. Salah satunya terlihat jauh lebih tua. Itulah salah satu bangku asli yang ditemukan yang bisa saja pernah dipakai BK kecil.

Endang Pudjiastutik, kepala sekolah sekarang ini lantas meraih lengan saya. Dia ingin menunjukkan benda bersejarah yang dia temukan: papan tulis asli yang dipakai di kelas BK saat itu.

Kata Bu Endang, saat ditemukan papan itu tertanam di tembok. Papan tulis ini terdiri dari tiga bidang yang ukurannya sama. Bidang kiri dan kanan bisa dilipat menutup bidang yang tengah. Ada engselnya.

Dua anak SD kelas lima sudah bisa jadi tour guide. Mereka dilatih menjaga tiap pajangan dan bisa menjelaskan apa yang ada di pajangan itu.

Saya tidak menyangka ada museum khusus masa sekolah di saat BK masih kecil. Bu Endang tidak hanya menemukan papan tulis, dia juga menulis buku tentang BK di sekolah itu.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan