Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Model Polytron, Oleh: Dahlan Iskan

Model Polytron, Oleh: Dahlan Iskan-Ist-

Memang pembeli masih harus bayar sewa baterai secara bulanan tapi nilai sewanya masih lebih murah dari biaya sebulan membeli bensin.

Polytron sudah menemukan model bisnis penjualan motor listrik di Indonesia. Tinggal satu lagi yang masih harus diperjuangkan: bagaimana bisa membangun sebanyak mungkin stasiun charging.

Kalau bagian ini sudah bisa dilewati Polytron tinggal menuai panennya. Perjuangan Polytron dalam merintis industri motor listrik sudah sangat panjang. Sudah menjadi haknya untuk berhasil.

Perhatikan merek-merek motor listrik yang lain: mereka masih pada tingkat dikendalikan oleh kelas pedagang. Bukan oleh kelas industriawan.

Pedagang punya sifat hit and run. Tidak perlu investasi fondasi. Juga tidak perlu mikir terlalu ke depan. Tinggal beli suku cadang lalu dirakit secukupnya.

Pedagang berangkat dari nol. Industriawan berangkat dari minus yang dalam. Industriawan harus membangun fondasi.

Cara berpikir industri juga jauh lebih ke depan. Pun Polytron: sudah memikirkan apa yang akan terjadi delapan tahun lagi: kelak harus melakukan apa. Khususnya di bidang baterai.

Delapan tahun lagi baterai itu sudah tidak efisien lagi untuk sepeda motor. Harus diganti. Bekasnya, yang belum perlu dibuang, akan dikemanakan atau dipakai apa.

CEO Polytron Ir Hariono membisikkan bocoran konsep masa depan baterai itu. Masih rahasia. Tapi begitu mendengar bisikan itu saya langsung paham.

Setelah paham saya pun acungkan jempol kepadanya. Idenya sangat bagus –kalau Anda bisa menebak Anda layak jadi calon CEO Polytron setelah Hariono pensiun kelak.

Hariono orang Bojonegoro. Ia alumnus elektro ITS –arus lemah. Ia sudah memimpin Polytron sejak Djarum masuk ke industri elektronik: mulai dari speaker kecil sampai TV, mesin cuci, dan AC.

Anda sudah tahu: belakangan Polytron juga sudah mulai memproduksi mobil listrik. Penjualannya juga pakai sistem sewa baterai. Masa depan baterai mobil itu akan dibuat sama dengan baterai sepeda motor.

Di pabriknya di sebelah timur Semarang itu saya pun mencoba mobil listrik Polytron. Keliling pabrik seluas 39 hektare. Tidak satu pun yang bisa saya cela dari mobil Polytron. Saya menyetirnya dengan doa: semoga bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Lalu, siapa tahu, ada jalan masuk Amerika atau Kanada. (Dahlan Iskan)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan