Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Bukan Sekadar Waktu, Inilah Esensi Quality Time di Zaman Serba Digital !

IST Quality Time dalam keluarga sangatlah penting.--

BACAKORANCURUP.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari, konsep ‘quality time’ dalam keluarga perlahan mengalami pergeseran makna. Dahulu, kebersamaan keluarga identik dengan aktivitas fisik bersama, seperti makan malam, berkumpul di ruang keluarga, atau liburan ke luar kota.

Namun kini, kemajuan teknologi mengubah cara keluarga berinteraksi, di mana kebersamaan tidak lagi selalu berarti berada dalam satu ruang secara fisik, melainkan bisa terjadi secara virtual, dan sayangnya, tak selalu bermakna.

Psikolog Fitriani Hidayah menyoroti bahwa makna sejati dari quality time sesungguhnya tidak diukur dari banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, tetapi dari kualitas hubungan dan komunikasi yang terjalin.

“Interaksi yang penuh makna, saling mendengarkan, dan kehadiran yang sepenuhnya utuh saat bersama adalah esensi dari quality time,” jelasnya.

BACA JUGA:Benarkah Madu Bisa Awet Selamanya ? Ini Jawaban Ilmuwan

BACA JUGA:Donatmu Bantat ? Ternyata Ini Biang Keroknya !

Menurutnya, fondasi keluarga yang kuat hanya bisa dibangun jika setiap anggota keluarga mampu hadir secara emosional satu sama lain, terlepas dari seberapa sibuk dan digitalnya kehidupan saat ini.

Namun, membangun kebersamaan yang berkualitas bukan perkara mudah di zaman sekarang. Fitriani mencatat sejumlah tantangan utama yang menghambat terciptanya quality time dalam keluarga modern. Salah satu yang paling dominan adalah keberadaan teknologi yang bersifat distraktif. Gawai, media sosial, notifikasi pesan instan, hingga rutinitas hiburan digital sering kali menyita perhatian dan menyisakan sedikit ruang untuk interaksi tatap muka yang hangat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan adanya jurang generasi yang memperlebar kesenjangan dalam cara berkomunikasi.

“Generasi tua seperti boomer dan milenial awal cenderung menjunjung tinggi diskusi langsung dan tatap muka, sedangkan generasi muda seperti Z dan Alpha lebih nyaman berkomunikasi melalui layar,” terangnya. Perbedaan cara pandang inilah yang membuat momen kebersamaan sering kali terasa canggung atau bahkan tidak terjadi sama sekali.

Padahal, menurut Fitriani, teknologi semestinya bisa menjadi jembatan, bukan tembok. Ia menekankan pentingnya pengelolaan penggunaan gawai agar tidak mengorbankan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Jika interaksi nyata terabaikan, maka dampaknya bisa seriu, mulai dari gangguan komunikasi antar anggota keluarga, rasa kesepian tersembunyi, hingga risiko masalah psikologis yang lebih besar.

Solusi untuk mengatasi hambatan ini, kata Fitriani, bukan dengan melarang teknologi, tetapi dengan menciptakan kesepakatan dan manajemen waktu yang sehat dalam keluarga. Orang tua dan anak perlu saling memahami ritme hidup satu sama lain dan mencari waktu yang tepat untuk berinteraksi secara penuh, meskipun hanya sejenak. Fleksibilitas dan komunikasi yang terbuka menjadi kunci.

Menjalin momen kebersamaan dalam keluarga tak harus rumit atau mahal. Yang terpenting adalah niat, konsistensi, dan kesesuaian dengan usia serta minat anggota keluarga. Fitriani membagi ide kegiatan quality time berdasarkan kelompok usia, agar setiap anggota merasa dihargai dan terlibat secara aktif.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan