Rokok Elektrik Lebih Sehat ? Fakta Medis Buktikan Bahaya Nyata Vape
Bahaya vape--
BACAKORANCURUP.COM - Rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan vape selama ini kerap dipasarkan sebagai pilihan “lebih sehat” dibandingkan rokok tembakau.
Banyak yang percaya bahwa karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran, vape dianggap lebih aman untuk tubuh
Namun, anggapan tersebut semakin hari terbantahkan oleh temuan medis terbaru. Para ahli justru mengingatkan bahwa penggunaan vape membawa risiko serius, terutama terhadap kesehatan jantung dan sistem pembuluh darah.
Menurut dr. Vito Damay, spesialis jantung dan pembuluh darah, penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa rokok elektrik tetap berbahaya.
BACA JUGA:Suguhkan Kisah Horor Hantu Kresek, Ini Sinopsis Film Rest Area
BACA JUGA:Kenapa Setelah Makan Kangkung Jadi Ngantuk ? Ini Jawaban Ilmiahnya
“Meski diklaim lebih aman, fakta medis membuktikan vape masih memiliki potensi merusak pembuluh darah. Maka dari itu, langkah terbaik demi kesehatan adalah berhenti merokok sepenuhnya,” jelas Vito dikutip dari CNNIndonesia.com
Pernyataan itu sejalan dengan kajian Vito yang dituangkan dalam penelitian berjudul “Rokok Elektronik dan Aterosklerosis : Tinjauan Literatur Komprehensif tentang Bukti Terbaru” yang dipublikasikan di National Library of Medicine.
Penelitian ini secara mendalam membahas hubungan antara konsumsi vape dan risiko aterosklerosis, penumpukan plak pada dinding arteri. Kondisi tersebut merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner (CAD), salah satu penyakit paling mematikan di dunia.
Lebih jauh, penelitian tersebut menjelaskan bahwa meskipun vape tidak menghasilkan asap tembakau, cairan yang dipanaskan tetap melepaskan berbagai zat berbahaya. Zat tersebut antara lain nikotin, propilen glikol, partikel mikro, logam berat, hingga bahan perisa.
Kombinasi kandungan ini mampu menimbulkan stres oksidatif, peradangan, serta kerusakan endotel, yang dalam jangka panjang merusak kesehatan pembuluh darah.
Fakta lain yang diungkap dalam studi adalah tren penggunaan rokok elektrik yang meningkat tajam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Data menunjukkan bahwa sekitar 10,9 persen orang dewasa di Indonesia mengetahui tren vape, dan 2,5 persen di antaranya sudah menjadi pengguna aktif. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, karena semakin banyak orang beralih ke vape dengan keyakinan keliru bahwa produk ini aman.
Padahal, bukti ilmiah menegaskan bahwa risiko kesehatan vape tidak jauh berbeda dengan rokok biasa. Uapnya dapat memengaruhi sistem pernapasan, pencernaan, hingga kardiovaskular.
Penggunaan vape dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko kerusakan pada pembuluh darah akibat paparan radikal bebas yang muncul dari proses pemanasan cairannya.