Overthinking Karena Berita Politik ? Psikolog UI Sarankan Skill Mental Ini
IST Pentingnya bijak dalam konsumsi berita di media sosial agar tak menjadi beban dalam pikiran--
BACAKORANCURUP.COM - Beberapa hari terakhir, situasi politik tanah air kembali menyita perhatian publik. Aksi anggota DPR hingga demonstrasi besar yang berakhir ricuh karena disusupi provokator membuat banyak orang merasa resah.
Tak sedikit masyarakat yang mengaku mentalnya ikut tertekan, muncul rasa cemas, sedih, lelah, hingga merasa tak berdaya.
Melansir informasi dari DetikEdu, Psikolog Universitas Indonesia (UI), Dicky C. Pelupessy, S.Psi., MDS., Ph.D., mengingatkan bahwa kondisi mental semacam ini wajar terjadi.
Namun, masyarakat perlu memiliki keterampilan mental tertentu agar tetap mampu menjaga kewarasan di tengah arus informasi dan situasi sosial yang penuh tekanan.
BACA JUGA:Dikenal Paling Keras Kepala, 4 Zodiak Ini Ternyata Sulit Dikalahkan !
BACA JUGA:Rahasia Pesona 5 Zodiak Paling Dewasa, Bikin Orang Lain Merasa Nyaman
"Skill mental yang penting adalah kemampuan meregulasi emosi. Termasuk di dalamnya keterampilan memilah informasi, menentukan mana yang relevan, dan mana yang sebaiknya tidak memenuhi pikiran dan perasaan kita," jelas Dicky mengutip detikEdu, Senin (01/09/2025).
Menurut Dicky, media, terutama media sosial, sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang hampir setiap saat mengecek ponsel, melihat berita terbaru, hingga membaca komentar warganet. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat otak terus-menerus menerima stimulasi, baik positif maupun negatif.
"Inilah yang perlu dikendalikan. Prinsip dasarnya adalah kesadaran penuh (mindfulness). Kita harus secara sadar mengatur keterpaparan informasi agar mental tidak kewalahan," tambahnya.
Dicky menyarankan agar setiap orang membuat klasifikasi sederhana dalam memilah konten :
1. Informasi yang kredibel - berasal dari sumber resmi atau media bereputasi.
2. Informasi yang meragukan - sumbernya tidak jelas atau berpotensi hoaks.
3. Konten hiburan - yang ringan dan menyenangkan, bisa dijadikan distraksi positif.
Dengan memilah seperti ini, masyarakat bisa menjaga keseimbangan. Tidak semua hal perlu dikonsumsi atau direnungkan.