Sundulan Sepak Bola Bisa Merusak Otak ? Ini Fakta Ilmiah yang Wajib Diketahui
IST Sundulan dalam permainan sepak bola--
BACAKORANCURUP.COM - Sundulan bola kerap dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari sepak bola. Gerakan ini bahkan menjadi salah satu teknik paling ikonik dalam olahraga tersebut, baik untuk mencetak gol maupun menghalau serangan lawan.
Namun, di balik keindahannya, sundulan ternyata menyimpan potensi bahaya serius bagi kesehatan otak.
Sebuah studi besar terbaru menyoroti bahwa benturan kepala berulang akibat sundulan dapat menimbulkan kerusakan otak jangka panjang.
Yang mengejutkan, dampak ini tidak hanya menimpa atlet profesional yang menjalani pertandingan intens, melainkan juga pemain amatir yang bermain sekadar untuk hobi. Temuan ini menantang persepsi lama bahwa hanya benturan keras atau kejadian gegar otak yang berisiko bagi kesehatan.
Penelitian yang dipimpin oleh Michael Lipton, ahli saraf dari Universitas Columbia, melibatkan 352 pemain sepak bola amatir dewasa.
BACA JUGA:Trend Baru! Pembuatan Mochi Jepang yang Lagi Hype!
BACA JUGA:Wajib Tahu ! Bedanya KTP Biru, Pink, dan Oranye di Indonesia
Dari studi ini terungkap bahwa pemain yang melakukan lebih dari 1.000 sundulan dalam setahun menunjukkan perubahan mikroskopis pada struktur otak mereka.
Perubahan tersebut terutama terjadi di area perbatasan antara materi abu-abu dan materi putih, tepatnya di bagian depan otak yang berhubungan erat dengan fungsi memori, konsentrasi, dan kemampuan belajar. Meski kerusakan yang terlihat tergolong halus, dampaknya nyata yaitu penurunan performa kognitif, termasuk melemahnya daya ingat dan kapasitas belajar.
Lipton menegaskan bahwa temuan ini memberikan bukti kuat bahwa benturan berulang, meski tampak ringan, dapat menimbulkan gangguan pada fungsi otak.
"Paparan sundulan yang terjadi terus-menerus dapat menimbulkan perubahan spesifik yang merusak jaringan otak," ujarnya dalam publikasi di JAMA Network Open.
Untuk mendeteksi kerusakan halus tersebut, tim peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik difusi (dMRI), sebuah teknik canggih yang mampu menampilkan detail mikrostruktur otak. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada pemain yang sering melakukan sundulan, batas antara materi abu-abu dan putih tampak lebih kabur dibandingkan pada otak yang sehat.
Menurut Joan Song, mahasiswa pascasarjana yang terlibat dalam riset ini, kondisi tersebut menandakan adanya kerusakan jaringan otak pada level mikroskopis.
"Pada otak sehat, peralihan antara materi abu-abu dan putih terlihat tegas. Namun pada kelompok pemain dengan intensitas sundulan tinggi, transisi itu melemah," jelasnya.