5 Alasan Psikologis Mengapa Kita Suka Memotret Makanan Sebelum Makan
Kebiasaan memotret makanan sebelum makan--
BACAKORANCURUP.COM - Pernahkah kamu memperhatikan bahwa sebelum makan, banyak orang spontan mengeluarkan ponsel dan memotret makanan di hadapannya ? Bagi sebagian orang, kebiasaan ini sudah seperti "ritual kecil" sebelum menikmati hidangan.
Fenomena ini bukan hanya milik food blogger atau influencer kuliner. Orang biasa pun kini gemar mengabadikan setiap hidangan yang menggugah selera, mulai dari kopi di kafe estetik, ramen hangat di restoran Jepang, hingga sepiring nasi goreng di warung langganan.
Tindakan sederhana ini ternyata menarik perhatian para ahli psikologi. Menurut mereka, ada berbagai alasan psikologis yang mendorong seseorang untuk memotret makanan sebelum menyantapnya. Yuk, simak lima di antaranya !
1. Estetika Visual
Makanan tak hanya memanjakan lidah, tapi juga mata. Warna yang cerah, plating yang rapi, hingga tekstur yang unik menjadikan makanan tampak seperti karya seni. Tak heran, banyak orang merasa sayang jika tidak mengabadikannya lebih dulu.
BACA JUGA:Seni Menyeduh Kopi dengan Susu Dingin, Rahasia di Balik Milk Brew yang Viral !
BACA JUGA:Panas Bikin Kepala Berdenyut ? Ini Trik Dokter Saraf UI agar Terhindar dari Migrain !
Sebuah foto makanan yang diambil dengan pencahayaan alami dan komposisi seimbang mampu memberikan kepuasan visual bahkan sebelum suapan pertama. Di dunia digital yang serba visual seperti sekarang, estetika foto menjadi magnet yang kuat, satu foto indah bisa menarik ratusan komentar dan "likes" dalam hitungan menit.
Menurut psikolog, tindakan ini juga bisa dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap keindahan dan kreativitas di balik setiap hidangan. Dengan kata lain, seseorang yang memotret makanan sedang "menyapa" sisi artistiknya sendiri.
2. Ekspresi Diri
Foto makanan ternyata juga bisa menjadi cerminan kepribadian. Apa yang seseorang makan dan bagaimana ia memotretnya dapat mencerminkan gaya hidup dan nilai-nilai yang ia anut.
Mereka yang suka mengunggah kopi latte di kafe minimalis mungkin memiliki kepribadian yang tenang, modern, dan menghargai keindahan detail. Sementara itu, mereka yang gemar membagikan foto jajanan kaki lima menunjukkan jiwa petualang, terbuka, dan penuh rasa ingin tahu.
Bagi banyak orang, foto makanan bukan sekadar dokumentasi, tapi juga "cerita" tentang siapa mereka, di mana mereka berada, dan suasana hati saat itu. Psikolog melihatnya sebagai bentuk ekspresi diri yang positif dan kreatif di tengah derasnya arus digitalisasi.
3. Membangun Koneksi Sosial