Ada Bayi Positif HIV di Kepahiang, Total Ada 6 Kasus
Logo HIV.--
BACAKORANCURUP.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang mencatat adanya peningkatan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun tim kesehatan, terdapat enam kasus baru yang telah teridentifikasi hingga saat ini.
Informasi ini disampaikan dalam laporan yang dilansir dari Radar Kepahiang, sebagai bagian dari upaya penyebarluasan informasi kesehatan kepada masyarakat.
Dari sejumlah kasus tersebut, satu di antaranya menjadi sorotan karena melibatkan seorang bayi yang dinyatakan positif HIV. Kasus ini diduga berkaitan dengan penularan dari orang tua yang sebelumnya telah terinfeksi.
Kepala Dinkes Kepahiang, H. Tajri Fauzan, S.KM., M.Si., menjelaskan bahwa seluruh pasien yang terkonfirmasi kini masih dalam pemantauan intensif oleh tenaga medis guna memastikan kondisi kesehatan mereka tetap stabil.
Menurut Tajri, penularan HIV dari ibu ke anak memang memiliki risiko yang cukup tinggi apabila tidak ditangani sejak dini. Penularan dapat terjadi selama masa kehamilan, saat proses persalinan, maupun melalui pemberian ASI. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan rutin pada ibu hamil menjadi langkah penting dalam mencegah penularan tersebut.
Upaya ini sejalan dengan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menekankan pentingnya skrining HIV bagi ibu hamil sebagai bagian dari layanan kesehatan dasar.
Lebih lanjut, Tajri menegaskan bahwa pasien yang terdiagnosis HIV wajib menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara konsisten. Pengobatan ini tidak menyembuhkan HIV, tetapi mampu menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga penderita tetap dapat menjalani kehidupan yang produktif.
Selain itu, kepatuhan dalam mengonsumsi ARV juga berperan penting dalam menurunkan risiko penularan kepada orang lain.
Untuk mendukung keberlangsungan terapi tersebut, Dinkes Kepahiang memastikan ketersediaan obat ARV di seluruh puskesmas yang ada di wilayahnya. Langkah ini dilakukan agar pasien tidak mengalami kendala dalam mengakses pengobatan.
Dengan layanan yang mudah dijangkau, diharapkan pasien dapat lebih disiplin menjalani terapi secara rutin.
Tidak hanya fokus pada penanganan medis, Dinkes juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Sosialisasi mengenai bahaya HIV, cara penularan, serta langkah pencegahan dilakukan secara berkala, baik melalui fasilitas kesehatan maupun kegiatan penyuluhan di lingkungan masyarakat.
Edukasi ini penting untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus mengurangi kesalahpahaman terkait HIV.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penularan HIV di Indonesia masih didominasi oleh hubungan seksual tidak aman serta penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku hidup sehat, seperti setia pada satu pasangan, menggunakan alat pelindung, serta menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian.