Senegal Juara Piala Afrika Usai Kalahkan Maroko
Senegal Juara Piala Afrika Usai Kalahkan Maroko--
BACAKORANCURUP.COM - Turnamen Piala Afrika (AFCON) yang sejatinya menjadi pesta sepak bola benua Afrika justru berakhir dalam suasana penuh kecurigaan dan kontroversi. Sepanjang kompetisi, muncul persepsi luas bahwa keputusan wasit cenderung menguntungkan tuan rumah Maroko, hingga akhirnya memuncak pada laga final yang berujung kekacauan.
Momen paling mencolok terjadi pada partai puncak yang digelar di Rabat, Minggu malam. Para pemain Senegal memilih meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes setelah wasit menghadiahkan penalti kepada Maroko di penghujung babak kedua. Insiden tersebut terjadi tak lama setelah gol Senegal dianulir, memicu kemarahan dan ketidakpercayaan yang telah menumpuk sejak awal turnamen.
Reaksi keras Senegal mencerminkan krisis kepercayaan terhadap perangkat pertandingan yang mewarnai tiga pekan penyelenggaraan AFCON. Pelatih Maroko, Walid Regragui, bahkan mengakui bahwa atmosfer turnamen sudah terasa tidak kondusif sejak awal. Pernyataan itu disampaikannya setelah Maroko harus menelan kekalahan 0-1 di babak perpanjangan waktu di depan pendukung sendiri.
“Sejak awal suasananya tidak sehat,” ujar Regragui, merujuk pada tekanan besar yang menyertai setiap pertandingan timnya sebagai tuan rumah.
Selain tekanan dari puluhan ribu pendukung Maroko, ketegangan juga diperparah oleh keterbatasan alokasi tiket bagi suporter tim lawan, serta sejumlah keputusan wasit yang dianggap kontroversial oleh banyak tim peserta.
Sorotan terhadap kepemimpinan wasit mulai menguat sejak perempat final, saat Maroko mengalahkan Kamerun 2-0. Pihak Kamerun menilai wasit mengabaikan penalti setelah penyerang mereka, Bryan Mbeumo, dijatuhkan di kotak terlarang.
“Banyak orang ingin percaya, atau membuat orang lain percaya, bahwa kami selalu dibantu wasit. Maroko adalah tim yang ingin dikalahkan, jadi akan selalu ada alasan untuk menyudutkan kami,” kata Regragui.
Kontroversi kembali mencuat di semifinal melawan Nigeria. Gelandang Nigeria, Bright Osayi-Samuel, secara terbuka melontarkan kritik tajam.
“Wasitnya sangat buruk. Banyak keputusan yang keliru dan sangat menyakitkan melihat hal seperti itu terjadi di pertandingan sebesar ini,” ujarnya.
Puncak kontroversi terjadi di final, yang dipimpin oleh wasit asal Kongo, Jean-Jacques Ndala. Keputusan-keputusannya langsung menjadi sorotan internasional. Mantan wasit internasional Prancis, Bruno Derrien, menilai Ndala tidak memiliki otoritas dan ketegasan yang cukup untuk mengendalikan situasi krisis di laga sepenting final AFCON.
Menurut Derrien, gol Senegal yang dianulir akibat dugaan pelanggaran terhadap bek Paris Saint-Germain, Achraf Hakimi, seharusnya ditangani dengan lebih hati-hati.
“Ada kontak, tetapi sangat ringan. Wasit meniup peluit terlalu cepat. Jika permainan dibiarkan berlanjut, VAR kemungkinan besar akan mengesahkan gol tersebut,” ujar Derrien kepada AFP.
Beberapa menit kemudian, Ndala memberikan penalti kepada Maroko setelah bek Senegal, El Hadji Malick Diouf, menarik leher Brahim Diaz saat situasi sepak pojok. Derrien menilai keputusan itu juga masih bisa diperdebatkan, terutama karena terjadi di tengah tensi pertandingan yang sudah sangat tinggi. Keputusan penalti tersebut memicu keributan besar. Ndala dikepung pemain dan staf dari kedua tim, sementara sorakan dan siulan keras dari pendukung tuan rumah semakin memperkeruh suasana saat wasit menuju monitor VAR.
Sebagai bentuk protes, beberapa pemain Senegal memilih meninggalkan lapangan, membuat pertandingan tertunda hampir 20 menit. Dalam situasi ini, Ndala dinilai terlalu pasif, padahal regulasi sepak bola memungkinkan pemberian kartu kuning kepada pemain yang sengaja menunda pertandingan atau meninggalkan lapangan tanpa izin. Jika aturan itu diterapkan secara tegas, beberapa pemain Senegal yang telah mengantongi kartu kuning berpotensi dikeluarkan dari pertandingan.