Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Pentingnya Mengenalkan Berbagai Tekstur Makanan Sejak Dini untuk Cegah Anak Picky Eater

Mengenalkan berbagai tekstur makanan sejak dini pada anak akan sangat bermanfaat bagi pola makan anak kedepannya-Ist-

 BACAKORANCURUP.COM - Tidak sedikit orang tua merasa khawatir ketika anak mulai menunjukkan sikap pilih-pilih makanan, menolak makan, atau enggan mencoba tekstur baru. Situasi ini sering kali dianggap sebagai fase "susah makan" yang membuat orang tua stres dan bingung mencari solusi. Padahal, pada usia dini, anak sedang berada dalam periode penting untuk mengenal makanan, bukan hanya dari rasa, tetapi juga melalui seluruh panca indranya.

Dokter sekaligus konsultan laktasi, dr. Ayudya Soemawinata, BMedSc (Hons), IBCLC, menjelaskan bahwa anak memiliki fase oral yang berlangsung hingga sekitar usia tiga tahun. Pada fase ini, mulut menjadi pusat rasa aman dan nyaman bagi anak. Apa pun yang akan dimasukkan ke dalam mulut harus terlebih dahulu "diterima" oleh tubuhnya melalui pengalaman sensorik lain.

Namun, sebelum anak berani memasukkan makanan ke dalam mulut, ia perlu merasa aman melalui indera lain, terutama indera peraba. Jika sejak awal anak sudah merasa jijik atau tidak nyaman hanya dengan menyentuh makanan, besar kemungkinan ia akan menolak untuk mencicipinya. Rasa tidak nyaman di tangan akan berlanjut menjadi rasa tidak nyaman di lidah dan gusi. Oleh karena itu, pengenalan makanan sebaiknya dimulai jauh sebelum anak benar-benar memakannya.

Dalam sebuah acara Grand Opening Play At Sora di Jakarta Selatan, Minggu (14/12), dr. Ayudya menegaskan pentingnya mengenalkan makanan sejak dini. Menurutnya, pengenalan ini tidak bisa dilakukan secara instan. Anak perlu waktu untuk membangun rasa aman terhadap tekstur, aroma, dan bentuk makanan. Jika anak terbiasa memegang dan berinteraksi dengan makanan, proses memasukkan makanan ke mulut akan terjadi secara alami.

Sayangnya, banyak orang tua masih beranggapan bahwa mengenalkan makanan hanya berarti memberikan makanan yang lembut dan mudah ditelan. Padahal, anak justru perlu dikenalkan pada berbagai macam tekstur secara bertahap. Mulai dari yang halus, lembek, licin, berserat, hingga berbiji. Variasi tekstur ini penting untuk melatih sensitivitas sensorik dan kesiapan oral anak.

Salah satu contoh stimulasi sensorik yang baik adalah buah markisa. Anak biasanya tidak langsung memakannya, melainkan melalui beberapa tahap. Ia akan mengamati bentuk dan warna buah, menyentuh kulitnya, lalu memegang bagian dalam yang lembek dan berbiji. Setelah merasa aman, anak mungkin mulai menjilat, kemudian menggigit, hingga akhirnya berani memakan buah tersebut. Proses ini sangat alami dan justru penting, karena markisa memiliki berbagai tekstur yang semuanya dapat dimakan, dari daging buah yang lembut hingga bijinya.

dr. Ayudya juga menekankan bahwa orang tua tidak perlu repot menyiapkan stimulasi khusus atau alat mahal. Aktivitas sehari-hari di rumah, terutama di dapur, sudah menjadi sarana stimulasi sensorik yang sangat baik. Saat memasak, anak bisa diajak memegang kentang, merasakan kulitnya, atau menyentuh bahan makanan lain yang sedang disiapkan. Anak juga dapat diperkenalkan pada perbedaan tekstur bahan mentah dan matang.

Seiring bertambahnya usia, anak bisa dilibatkan dalam kegiatan sederhana seperti mencuci sayuran, mengaduk adonan, atau memecahkan telur. Melalui aktivitas ini, anak terbiasa melihat, menyentuh, dan mencium berbagai bahan makanan. Hal ini membantu anak mengenal aroma sejak dini, sehingga ia tidak mudah merasa mual atau menolak makanan hanya karena baunya terasa asing.

Pengenalan sensorik yang konsisten akan membuat anak lebih siap menerima makanan baru. Anak yang terbiasa dengan berbagai tekstur dan aroma cenderung lebih percaya diri saat makan dan tidak mudah mengalami penolakan makanan.

Dengan membiarkan anak melihat, menyentuh, mencium, dan bereksplorasi dengan makanan, orang tua membantu anak merasa aman dan nyaman terhadap makanan tersebut. Proses ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan oral dan kebiasaan makan anak di masa depan. Kesabaran, konsistensi, dan keterlibatan anak dalam aktivitas sehari-hari adalah kunci utama agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak takut mencoba makanan baru dan memiliki hubungan yang sehat dengan makanan. (Lola Anggraeni)

 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan