Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Bukan Flu Biasa, Ini Bahaya Super Flu H3N2 Subclade K

Waspada bahaya super flu mengintai-ilustrasi/net-

BACAKORANCURUP.COM - Varian terbaru virus influenza A (H3N2) subclade K, yang belakangan populer disebut sebagai super flu, tengah menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Istilah super flu digunakan untuk menggambarkan jenis influenza yang dinilai memiliki gejala lebih berat dibandingkan flu musiman biasa. Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat setelah sejumlah negara melaporkan lonjakan kasus, termasuk Amerika Serikat (AS) yang mencatat peningkatan jumlah penderita hingga dua kali lipat hanya dalam waktu satu minggu.

Lonjakan tersebut mulai terpantau sejak minggu ke-40 tahun 2025, bertepatan dengan masuknya musim dingin di wilayah Amerika Utara. Musim dingin memang dikenal sebagai periode rawan penyebaran virus pernapasan, termasuk influenza. Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS pada Agustus 2025. Sejak saat itu, varian ini dilaporkan telah menyebar ke lebih dari 80 negara, menandakan penyebaran global yang cukup luas.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa super flu juga telah terdeteksi di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi bahwa kasus influenza A (H3N2) subclade K pertama kali teridentifikasi pada 25 Desember 2025. Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa temuan tersebut berasal dari hasil pemeriksaan Balai Besar Laboratorium Kesehatan. Virus yang ditemukan merupakan Influenza A (H3N2) clade 3C.2a1b.2a.2a.3a 1/K, yang dikenal sebagai subclade K.

BACA JUGA: Inter Kokoh di Puncak Serie A, Usai Kalahkan Udinese

BACA JUGA:Jonatan Christie Kalah di Final India Open 2026

Spesialis paru, dr. Erlina Burhan, menjelaskan bahwa virus influenza pada dasarnya memiliki kemampuan untuk terus mengalami mutasi. Karakteristik ini mirip dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Salah satu bentuk mutasi tersebut dikenal dengan istilah antigenic drift, yaitu perubahan kecil namun berkelanjutan pada struktur antigen virus.

Menurut dr. Erlina, mutasi antigenic drift menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak sepenuhnya mengenali virus, bahkan pada individu yang sebelumnya telah mendapatkan vaksin influenza. Akibatnya, virus dapat menginfeksi kembali dan menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan influenza musiman pada umumnya. Inilah yang membuat subclade K mendapat perhatian khusus dari para tenaga kesehatan.

Data Kementerian Kesehatan RI hingga akhir Desember 2025 mencatat terdapat 62 kasus influenza subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak antara lain Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas pasien merupakan perempuan dan berasal dari kelompok usia anak-anak, yang diketahui memiliki sistem imun belum sekuat orang dewasa.

Gejala super flu dilaporkan dapat berlangsung lebih berat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta. Dokter spesialis paru RS Paru Persahabatan, Agus Dwi Susanto, menyebutkan beberapa gejala yang sering muncul, antara lain demam tinggi mencapai 39-41 derajat Celsius, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, batuk kering, sakit kepala, serta nyeri tenggorokan yang cukup parah. Selain itu, tingkat penularan virus ini tergolong cepat, di mana satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke dua hingga tiga orang lainnya.

BACA JUGA: Rambo Batman, Oleh: Dahlan Iskan

BACA JUGA:Banjir Rendam 35 RT di Jakarta

Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Langkah sederhana seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, menjaga pola makan bergizi, istirahat cukup, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang flu sangat dianjurkan. Selain itu, vaksinasi influenza tahunan tetap direkomendasikan, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi. Meski virus terus bermutasi, vaksin influenza terbukti efektif dalam menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, dan kematian.

Dengan langkah pencegahan yang konsisten, risiko penyebaran dan keparahan penyakit dapat ditekan secara signifikan. 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan