Sering Dilakukan di Rumah, Ternyata Ini Dampak Buruk Menghangatkan Makanan
memasak-ist-
BACAKORANCURUP.COM - Kebiasaan menghangatkan kembali makanan sisa kerap dilakukan oleh banyak orang karena dinilai praktis, hemat waktu, dan mengurangi pemborosan. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko kesehatan yang sering kali tidak disadari apabila proses pemanasan ulang dilakukan secara tidak tepat. Alih-alih memberi manfaat, kesalahan dalam menghangatkan makanan justru dapat merusak kandungan gizi hingga memicu terbentuknya senyawa berbahaya bagi tubuh.
Ahli gizi dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menegaskan bahwa tidak semua makanan aman untuk dipanaskan ulang. Beberapa jenis pangan tertentu sebaiknya dikonsumsi langsung setelah dimasak karena pemanasan berulang dapat menyebabkan penurunan kualitas nutrisi dan perubahan kimia yang merugikan kesehatan. Menurutnya, titik kritis kerusakan gizi sangat dipengaruhi oleh metode pengolahan awal serta suhu yang digunakan saat memanaskan kembali makanan.
BACA JUGA: Israel Buka Kembali Perlintasan Rafah untuk Penduduk Gaza
BACA JUGA: Resmi Rilis ! Redmi Note 15 Series Tawarkan Performa Tinggi dengan Harga Kompetitif
Makanan yang sejak awal dimasak dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kerusakan nutrisi. Proses penggorengan dan pembakaran sudah menyebabkan perubahan struktur zat gizi. Ketika makanan tersebut kembali terpapar panas, degradasi nutrisi akan semakin meningkat. Selain itu, pemanasan ulang berulang kali dapat memicu pembentukan senyawa baru, termasuk zat yang bersifat karsinogenik, serta meningkatkan kadar lemak jenuh dalam makanan.
Rita menjelaskan bahwa proses menghangatkan makanan sebenarnya masih diperbolehkan dengan syarat tertentu. Pemanasan sebaiknya dilakukan hanya untuk mengembalikan suhu makanan agar layak dikonsumsi, bukan untuk memasaknya kembali. Suhu pemanasan yang relatif aman berada di kisaran 60 derajat Celsius. Bahkan jika makanan mencapai titik didih, hal tersebut masih dapat ditoleransi selama waktunya singkat dan tidak berulang-ulang. Sebaliknya, pemanasan ulang dengan metode penggorengan, terutama deep frying menggunakan minyak dalam jumlah banyak, sangat tidak dianjurkan karena berpotensi besar merusak zat gizi.
Lebih lanjut, Rita mengelompokkan beberapa jenis makanan yang perlu diwaspadai saat akan dipanaskan ulang. Pertama, makanan yang dibakar dan digoreng. Karena telah terpapar panas ekstrem sejak proses awal, pemanasan ulang hanya akan memperparah kerusakan nutrisi. Kedua, pangan olahan seperti sosis, kornet, dan berbagai jenis daging olahan lainnya. Produk-produk ini telah melalui proses pengolahan panjang yang melibatkan bahan tambahan pangan, sehingga pemanasan ulang dapat meningkatkan risiko terbentuknya senyawa berbahaya.
Kelompok ketiga yang paling berisiko adalah sayuran dengan kandungan nitrat tinggi, seperti bayam, kale, dan kentang. Nitrat yang terkandung dalam sayuran tersebut dapat berubah menjadi nitrit ketika dipanaskan ulang. Senyawa nitrit diketahui berdampak buruk bagi kesehatan pembuluh darah dan berpotensi meningkatkan risiko kanker apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.
BACA JUGA: Dewan Ingatkan Disdikbud Profesional Jalankan Program Beasiswa
BACA JUGA: Efisiensi Anggaran Tetap Jalankan Program Pembangunan
Sementara itu, untuk makanan sumber protein, masih terdapat batas aman dalam pemanasan ulang. Rita menyebutkan bahwa protein hewani maupun nabati yang diolah dengan suhu rendah, seperti direbus, ditumis ringan, atau dioseng, relatif lebih aman untuk dihangatkan kembali. Contohnya, telur rebus atau telur orak-arik yang dimasak dengan api kecil masih dapat dipanaskan ulang selama durasinya singkat. Namun, hal ini tidak berlaku bagi protein hewani yang digoreng kering, seperti telur ceplok atau lauk gorengan lainnya. Pemanasan ulang pada jenis makanan tersebut berisiko tinggi merusak kandungan gizinya.
Dengan memahami prinsip pemanasan yang benar, masyarakat dapat tetap menikmati makanan secara aman tanpa mengorbankan nilai gizi dan kesehatan tubuh.