Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Kelelahan Mengintai Saat Arus Balik Lebaran, Ini Cara Mencegahnya

Kelelahan Mengintai Saat Arus Balik Lebaran, Ini Cara Mencegahnya-ist-

 

BACAKORANCURUP.COM - Arus balik Lebaran kerap dianggap lebih ringan dibandingkan arus mudik. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya, kondisi pengemudi saat arus balik justru sering kali kurang prima. Kelelahan menjadi faktor dominan yang meningkatkan risiko kecelakaan di jalan. Setelah menjalani rangkaian aktivitas selama Lebaran, seperti perjalanan panjang, silaturahmi, hingga perubahan pola istirahat, kondisi fisik dan mental pengemudi cenderung menurun.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengingatkan bahwa kelelahan saat berkendara sering kali muncul tanpa disadari. Penurunan fungsi pancaindra, seperti penglihatan dan pendengaran, terjadi secara bertahap sehingga pengemudi merasa masih mampu mengendalikan kendaraan, padahal konsentrasinya sudah berkurang.

"Setelah melewati hari-hari padat selama Lebaran, tubuh sebenarnya belum sepenuhnya pulih. Ditambah perjalanan jauh, kemacetan, serta bagi sebagian orang yang masih menjalankan puasa, potensi kelelahan menjadi semakin tinggi," ujarnya.

Hal ini sejalan dengan temuan berbagai lembaga keselamatan transportasi, seperti Kementerian Perhubungan dan WHO, yang menyebutkan bahwa kelelahan merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas selain faktor kecepatan dan kelalaian manusia. Kelelahan dapat menurunkan waktu reaksi, mengganggu fokus, bahkan menyebabkan microsleep atau tertidur sesaat tanpa disadari.

Oleh karena itu, penting bagi pengemudi untuk mengenali tanda-tanda kelelahan sejak dini. Gejala umum yang sering muncul antara lain mata terasa berat, sering menguap, sulit berkonsentrasi, hingga tubuh terasa pegal. Jika tanda-tanda tersebut diabaikan, risiko kecelakaan akan meningkat secara signifikan.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, ada beberapa langkah yang dapat diterapkan selama perjalanan arus balik.

Pertama, batasi durasi berkendara. Idealnya, pengemudi tidak memaksakan diri mengemudi lebih dari dua hingga tiga jam tanpa istirahat. Setelah itu, luangkan waktu sekitar 15-30 menit untuk beristirahat.

Kedua, perhatikan posisi duduk saat berkendara. Posisi yang terlalu nyaman memang membuat perjalanan terasa menyenangkan, tetapi juga berpotensi membuat pengemudi terlena dan menunda waktu istirahat. Padahal, tubuh sering kali sudah memberikan sinyal kelelahan yang perlu segera direspons.

Ketiga, tingkatkan kepekaan terhadap kondisi tubuh. Jangan menunggu hingga mengantuk. Rasa pegal, nyeri, atau menurunnya fokus merupakan tanda awal bahwa tubuh membutuhkan istirahat. Mengabaikan sinyal tersebut dapat berdampak fatal.

Selain itu, pemilihan rute perjalanan juga menjadi faktor penting. Pengemudi disarankan memilih jalur yang memiliki fasilitas istirahat yang memadai. Keberadaan rest area yang aman, bersih, dan nyaman dapat membantu memulihkan kondisi fisik sebelum melanjutkan perjalanan.

Namun, berhenti di rest area saja tidak cukup. Waktu istirahat perlu dimanfaatkan secara efektif. Pengemudi dapat melakukan peregangan ringan selama beberapa menit untuk melancarkan peredaran darah dan mengurangi ketegangan otot. Selain itu, menenangkan pikiran melalui ibadah atau meditasi singkat juga dapat membantu mengembalikan fokus.

Tidak kalah penting, pengemudi disarankan untuk menjaga asupan cairan dan makanan bergizi. Dehidrasi dan kekurangan energi dapat mempercepat munculnya rasa lelah. Mengonsumsi air putih yang cukup serta makanan ringan yang sehat dapat membantu menjaga stamina selama perjalanan.

Dengan kondisi tubuh yang kembali segar, pengemudi diharapkan mampu meningkatkan konsentrasi saat melanjutkan perjalanan. Hal ini menjadi sangat penting mengingat volume kendaraan pada arus balik biasanya meningkat tajam, sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan