Total Sampah 25 Ton per Hari, Kepahiang Masih Kekurangan Armada
Armada pengangkutan sampah-Ist-
BACAKORANCURUP.COM - Permasalahan sampah di Kabupaten Kepahiang kian menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang diperkirakan akan mencapai batas kapasitas sebelum tahun 2027 menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan sampah di daerah tersebut membutuhkan perhatian serius.
Situasi ini tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat secara luas.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kepahiang menghadapi berbagai kendala dalam menangani persoalan ini, salah satunya adalah keterbatasan armada pengangkut sampah. Minimnya jumlah truk operasional menyebabkan proses pengangkutan tidak dapat dilakukan secara optimal.
Akibatnya, sampah sering kali tertunda untuk diangkut dan menumpuk di sejumlah titik penampungan sementara. Kondisi ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, hingga menjadi sarang penyakit.
Kepala DLH Kepahiang, Dra. Sumi Fitriani, M.Si melalui Kepala Bidang Kebersihan, Tris Wahyudi, M.Pd, mengungkapkan bahwa volume sampah harian di wilayah tersebut mencapai sekitar 25 ton. Angka ini tergolong cukup tinggi untuk daerah dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Ia menjelaskan bahwa armada yang tersedia saat ini belum mampu mengimbangi lonjakan produksi sampah yang terus meningkat setiap harinya.
Selain jumlah yang terbatas, sebagian besar kendaraan pengangkut juga telah berusia tua dan kerap mengalami kerusakan, sehingga membutuhkan biaya perawatan yang besar dan menghambat kelancaran operasional.
Upaya penambahan armada sebenarnya telah direncanakan. Namun, keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama. Pengadaan truk baru belum dapat diakomodasi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam waktu dekat. Oleh karena itu, pemerintah daerah melalui DLH telah mengajukan usulan bantuan kepada pemerintah pusat guna memenuhi kebutuhan tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka menengah untuk memperbaiki sistem pengangkutan sampah di Kepahiang.
Di sisi lain, peningkatan volume sampah tidak terlepas dari pola konsumsi masyarakat yang terus berkembang. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), rata-rata produksi sampah di Indonesia mencapai sekitar 0,5 hingga 0,8 kilogram per orang per hari, dengan komposisi terbesar berasal dari sampah organik dan plastik.
Jika tidak dikelola dengan baik, jumlah ini akan terus bertambah dan memperparah kondisi TPA yang sudah hampir penuh.
Permasalahan ini juga diperburuk oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan prinsip 3R, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang). Padahal, penerapan konsep ini dapat secara signifikan menekan volume sampah yang harus dibuang ke TPA.
Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah penting yang perlu terus digencarkan, baik melalui program pemerintah maupun partisipasi aktif komunitas lokal.
Selain itu, sejumlah daerah di Indonesia telah mulai menerapkan inovasi pengelolaan sampah, seperti bank sampah, pengolahan sampah berbasis masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi untuk mengubah sampah menjadi energi. Model-model ini dapat dijadikan referensi bagi Kabupaten Kepahiang dalam merumuskan strategi penanganan yang lebih efektif dan berkelanjutan.