Kenaikan PPN 12 Persen Tetap Terjadi, Sosiolog Singgung Inkonsistensi Prabowo

Selasa 17 Dec 2024 - 17:59 WIB
Reporter : Gale
Editor : meyin

BACAKORANCURUP.COM- Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari yang sebelumnya 11 persen menjadi 12 persen resmi diberlakukan pada 2025 mendatang. Disway merchandise

Diketahui, PPN ini diberlakukan pada barang dan jasa kategori premium atau barang mewah, sehingga pemerintah menegaskan bahwa barang kebutuhan masyarakat tidak akan terdampak.

"Sesuai dengan masukan dari berbagai pihak, termasuk DPR, agar azas gotong royong di mana PPN 12 persen dikenakan bagi barang yang dikategorikan mewah, maka kita juga akan menyisir untuk kelompok harga untuk barang-barang dan jasa yang merupakan barang jasa kategori premium," kata Menteri Keuangan RI Sri Mulyani pada konferensi pers di  Jakarta, Senin 16 Desember 2024.

Beberapa barang yang termasuk daftar barang mewah sehingga mengalami kenaikan PPN 12 persen seperti beras premium, buah-buahan premium, daging premium (wagyu, daging kobe), ikan mahal (salmon premium, tuna premium).

Serta udang dan crustacea premium (king crab), jasa pendidikan premium, jasa pelayanan kesehatan medis premium, hingga listrik pelanggan rumah tangga 3500-600 VA.

Sementara barang dan jasa yang dibebaskan dari kenaikan PPN 12 persen diberlakukan kepada barang-barang yang mempengaruhi hajat hidup banyak orang.

BACA JUGA:Gibran Akui Saat Ini Fokus Bantu Presiden Prabowo

BACA JUGA:Prabowo: Korupsi Diberantas dengan Tegas!

"Tadi telah disampaikan oleh Pak Menko, beras, daging, ikan, telur, sayur, susu, segar, bahkan jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa transportasi dan berbagai macam barang dan jasa seperti rumah sederhana, dan air minum," lanjutnya.

Menariknya, layanan subsripsi dari platform hiburan streaming, seperti YouTube, Sportify, Netflix, dan sebagainya turut mengalami kenaikan PPN 12 persen.

"Iya, (Netflix) kena (kenaikan PPN 12 persen), sama (Spotify dan sejenisnya)," ungkap Dirjen Pajak Suryo Utomo pada kesempatan yang sama.

Di sisi lain, kenaikan PPN ini masih menjadi polemik di tengah masyarakat.

Sosiolog Universitas Nasional Sigit Rohadi menyebut, pajak dari rakyat merupakan sumber pendapatan utama pemerintah.

"Sehingga pemerintah aktif menciptakan berbagai jenis pajak yang ujungnya biaya hidup tinggi," kata Sigit kepada Disway, 17 Desember 2024.

Padahal seharusnya, lanjut Sigit, pajak dikenakan kepada masyarakat berpendapatan tinggi dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan dari pemerintah yang mudah, murah dan cepat.

Kategori :