Embun Diktator, Oleh: Dahlan Iskan

Rabu 21 May 2025 - 20:58 WIB
Reporter : Gale
Editor : Radian

Contoh nyata yang sering saya sebut adalah Xi Jinping dan Li Kejiang. Untuk jadi presiden Xi Jinping pernah jadi gubernur Fujian dengan pertumbuhan ekonomi 16 persen per tahun.

Selama 10 tahun berturut. Lalu masih harus ''dites'' lagi menjadi gubernur di provinsi yang lebih besar: Zhejiang. Dua periode. Pertumbuhan ekonominya 20 persen per tahun, selama 10 tahun. Masih harus dites lagi menjadi sekretaris partai di kota metropolitan: Shanghai.

Perdana menteri (waktu itu) Li Kejiang juga mirip itu. Sejak dari menjadi wali kota Dalian sudah istimewa. Dalianlah kota cantik pertama di Tiongkok. Kumuh jadi cantik. Jadi model rehabilitasi kota se-Tiongkok.

Lalu ia ''dites'' jadi gubernur Liaoning. Saat itulah Li Kejiang membangun jalan tol dari Shenyang, ibu kota provinsi, ke Dalian. Itulah jalan tol pertama di Tiongkok. Yang kemudian jadi model ke seluruh negara.

Ada yang pernah ''dites'' dan sudah lulus sampai tingkat menjadi gubernur. Sangat sukses. Jadi buah bibir senegara. Ia berhasil menata dan memajukan Chongqing –kota besar di pedalaman Tiongkok.

Saking topnya, banyak yang berhitung ia-lah yang akan jadi presiden Tiongkok berikutnya. Bukan Xi Jinping. Ia akhirnya tidak lulus ''tes'' terakhir itu. Ia gagal naik jadi presiden. Kalau saja ia lulus ''tes'' itu, ia yang jadi presiden saat itu. Bukan Xi Jinping. Anda sudah tahu siapa ia: Bo Xilai.

Istrinya terlalu ambisius. Juga terlalu cantik. Kini Bo Xilai dan istri hidup di dalam penjara: hukumannya seumur hidup.

Meritokrasi adalah kunci utama kemajuan Tiongkok. Di pemerintahan, sampai di dalam partai sendiri. Meritokrasi telah jadi obat ''penyakit'' diktator di Tiongkok. Kita belum menemukan obat ''penyakit'' demokrasi kita.

"Jadi, kalau orang tua Anda begitu takut Anda jadi komunis, jawab saja: emangnya mudah jadi anggota partai komunis".

"Tapi kenapa Korut yang juga diktator gagal maju?" tanya seorang mahasiswi e-commerce. Rasanya dia asli Bogor. Atau Batak Karo marga Ginting, muslimah. Atau salah satu dari mereka ini:

Dhea Anattasari (Jakarta), Donna Laurent Pangandaeng (Manado-Surabaya), Jennifer Susanto (Surabaya), Citra Anggraini (Bogor), Della Rizkyana Okvitaria (Muncar, Banyuwangi), Muhammad Falza Na'shif Muzakki (Bandung), Siti Zahra Darmayati Ginting (Medan).

Saya lempar kembali pertanyaan soal tidak majunya diktator Korea Utara itu.

"Karena dinasti". Diktator dinasti.

Korut belum bisa mengatasi sisi negatif diktator. Seperti kita yang juga belum bisa mengatasi sisi negatif demokrasi.

Matahari pantai kian tinggi. Waktunya sarapan pagi. Saya ingin sarapan ''burrito'' Rizhao lagi. Bikin sendiri. Ditambah cakalang dan udang eb

Kategori :

Terkait

Sabtu 03 Jan 2026 - 16:37 WIB

Jalur Kekeluargaan, Oleh: Dahlan Iskan

Jumat 02 Jan 2026 - 17:14 WIB

Hitung Mundur, Oleh: Dahlan Iskan

Kamis 01 Jan 2026 - 19:20 WIB

Tahun Pertaruhan, Oleh: Dahlan Iskan

Rabu 31 Dec 2025 - 14:55 WIB

Bintang 2025, Oleh: Dahlan Iskan

Selasa 30 Dec 2025 - 18:21 WIB

Gegeran Gergeran, Oleh: Dahlan Iskan