Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

大同, Oleh: Dahlan Iskan

Dahlan Iskan--

Mentok. Jalan buntu.

"Seribu kepala sudah saya tanya. Seribu lidah sudah saya jelajah. Tidak ada yang tahu" –maafkan Kang Didi Kempot.

Setelah senja saya penuhi keinginan petugas hotel tadi. Saya ke kota tua yang baru itu. Terpana. Permainan arsitektur tua dan gemerlapnya modern cahaya bersatu dalam semangat menjadi yang terbaik.

Tiga jam tak terasa. Kaki seperti benar-benar tua. Untung sudah makan sate kambing pinggir jalan sebelum ke sana.

"Seribu kepala lagi saya tanya. Hasilnya sama saja".

Apa boleh buat. Besok pagi terpaksa rekreasi saja. Ke dua lokasi bintang lima itu. Anda lihat sendiri video-videonya di Baidu: patung-patung Buddha di dalam gua-gua batu di tebing gunung.

Di lokasi satunya, Anda lihat, bagaimana kelenteng-kelenteng itu dibangun di tebing gunung yang tegak di posisi begitu tinggi.

Saya merenung di situ: alangkah sabar orang zaman dulu dalam mewujudkan semua itu. Satu patung bisa bertahun-tahun. Satu kelenteng bisa puluhan tahun. Rasanya bukan hasil keindahan fisiknya yang dikejar, tapi kematangan jiwa yang hanya bisa dihasilkan oleh kesabaran sekelas itu.

Mereka tidak memerlukan kereta secepat 1000 km/jam. Patung itu, kelenteng itu, kereta cepat itu. Masa lalu vs masa kini. Kesabaran vs kecepatan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan