Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Mendadak Syria, Oleh: Dahlan Iskan

--

BACAKORANCURUP.COM - Kesimpulan sementara saya: Syria akan bangkit dengan cepat. Saat menulis naskah ini, kemarin, sudah tiga hari saya di Suriah. Aman sekali. Sisa-sisa perang hampir tak terpandang. 

Memang saya baru lihat Damaskus, ibu kotanya. Baru hari ini akan ke Aleppo –lima jam naik mobil ke arah utara. Itu kota terbesar kedua di Syria. Juga kota dengan peradaban yang sangat tua. Aleppo kota dagang terkenal sejak berabad lalu: salah satu pusat transit utama jalan sutra Tiongkok-Eropa. 

Di Damaskus saya keliling gang-gang sempit di kampung miskin di dalam kota. Saya ke pasarnya. Ke restoran-restorannya. Ke kementeriannya. Ke perusahaan swastanya. Diajak ke rumah salah satu orang sangat kaya di sana. Saya melihat di mana-mana orang giat bekerja. Saya tidak melihat orang yang duduk-duduk menganggur di pinggir jalan. Semua orang bergerak. Dengan irama cepat. 

Tentu masih terlihat bangunan yang rusak akibat rudal, bom, dan roket. Tapi tidak mencolok. Sudah tertutup oleh derap kesibukan di jalan-jalan. 

Jumlah mobil sudah sangat banyak. Lalu-lintas padat. Mobil tua. Mobil baru. Mobil jelek. Mobil mewah. Campur. Dalam jumlah yang seimbang ragamnya. Pun segala macam merek mobil. Campur. Terbanyak mobil Korea: Hyundai dan Kia. Lalu segala macam mobil Jepang. Mobil Prancis. Italia. Jerman. Inggris. Tiongkok. Masih terlihat mobil Rusia. Taksi-taksi lama pakai mobil produksi Iran. 

Sisa perang sesekali terlihat samar: bagian depan gedung Kedutaan Iran yang rusak ringan. Tutup. Duta besar dan stafnya tidak ada lagi. Sebagian kecil wajah depan gedung Kementerian Pertahanan runtuh. Selebihnya tidak terlihat puing-puing sisa perang. 

Padahal belum setahun perang itu berlalu. Baru hampir setahun. Baru Desember tahun lalu penguasa diktator Basyar Al Assad tumbang: kabur ke Moskow, Rusia. Dengan istri dan anak-anaknya. 

Suriah begitu cepat ke arah normal. Rute saya ke Syria ini agak memutar: Surabaya-Hong Kong-Doha-Damaskus. Di Hong Kong saya harus bertemu teman bisnis dari Beijing. Lalu saya ajak ke Syria. Mendengar kata Syria istrinya terlihat bergidik. Waswas. Ragu. Aneh. Saya pernah ajak mereka ke Amerika. Senang. Bersemangat. Berjingkrak. Tapi kali ini saya ajak mereka ke negara yang kesan umumnya masih mengerikan. 

"Kami kan tidak punya visa?" kata Janet akhirnya. Lalu dia menengok ke arah suami. 

"Saya sudah tanya Gus Najih. Kalian tidak perlu visa. Bisa urus visa on arrival di bandara Damaskus," jawab saya. 

Gus Najih adalah alumnus Suriah. Najih Arromadoni. Empat tahun kuliah di Syria. Hampir lulus. Gara-gara meletus perang ia pulang. Ambil ijazah di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Kini Gus Najih, asal Brebes, sudah doktor –dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Belakangan ia mondar-mandir ke Damaskus. Ia sekretaris alumni Timur Tengah. 

Mendengar ajakan saya, Janet lantas sibuk dengan HP-nya. Saya sibuk ngobrol bisnis dengan suami. 

"Anda sebagai orang Indonesia memang bisa urus VOA di Damaskus. Kami sebagai orang Tiongkok harus punya visa," ujarnyi sambil menunjuk ke layar HP. 

Saya jadi ragu dengan informasi yang saya terima. Saya pun hubungi Gus Najih. Ingin kepastian. Gus Najih hubungi kedutaan Indonesia di Damaskus. Cepat sekali dapat jawaban: orang Tiongkok pun bisa urus visa di bandara Damaskus. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan