BACAKORANCURUP.COM - Pemain sepak bola asal Belanda tengah mempersiapkan gugatan class action besar-besaran, terhadap FIFA dan asosiasi sepak bola lainnya di Eropa. Gugatan ini diajukan sebagai bentuk upaya untuk memperoleh kompensasi atas kerugian pendapatan yang diduga disebabkan oleh peraturan transfer yang membatasi, ungkap kelompok tersebut pada Senin 4 Agustus 2025.
Yayasan Keadilan Belanda (Justice for Players) mengungkapkan, bahwa regulasi FIFA telah memengaruhi sekitar 100.000 pemain di Eropa dan Inggris sejak 2002.
Yayasan itu juga mencatat bahwa firma konsultan Compass Lexecon memperkirakan bahwa kerugian yang timbul akibat regulasi ini bisa mencapai miliaran euro.
Dolf Segaar, anggota dewan yayasan, menyatakan kepada kantor berita Belanda, NOS, bahwa "klaim ini bisa bernilai miliaran dolar."
Di antara asosiasi yang disebutkan dalam gugatan tersebut adalah Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB).
Gugatan ini diajukan di Belanda berdasarkan Undang-Undang Penyelesaian Kerugian Massal dalam Aksi Kolektif (WAMCA), yang memungkinkan Yayasan Keadilan Belanda untuk membawa kasus ini atas nama para pemain profesional.
FIFA dan KNVB belum memberikan tanggapan resmi terkait gugatan ini melalui email.
Menurut analisis awal dari Compass Lexecon, pemain sepak bola profesional di Eropa diduga kehilangan sekitar 8 persen dari potensi pendapatan mereka selama karier akibat peraturan FIFA yang dibawa dalam regulasi transfer pemain.
Lucia Melcherts, ketua Yayasan Keadilan Belanda, menyatakan bahwa "semua pemain sepak bola profesional telah kehilangan pendapatan besar akibat aturan FIFA yang tidak sah.'Justice for Players' menggugat untuk membawa keadilan bagi pemain sepak bola dan memastikan hak mereka dilindungi."
Gugatan ini diajukan setelah putusan terhadap pemain Prancis, Lassana Diarra, yang dikenakan denda 10 juta euro, sekitar 170 miliar oleh FIFA karena meninggalkan Lokomotiv Moscow satu tahun lebih awal dari kontrak empat tahunnya.
Pada Oktober 2024, Pengadilan Keadilan Uni Eropa memutuskan bahwa beberapa aturan FIFA terkait transfer pemain bertentangan dengan hukum Uni Eropa, khususnya prinsip pergerakan bebas, dalam kasus yang melibatkan Diarra, yang sebelumnya bermain untuk Chelsea, Arsenal, dan Real Madrid.
Setelah putusan pengadilan, FIFA mengadopsi kerangka sementara mengenai Peraturan Status dan Transfer Pemain pada Desember 2024.
Kerangka ini berfokus pada perhitungan kompensasi yang dibayarkan dalam kasus pelanggaran kontrak dan tanggung jawab pembuktian terkait kompensasi serta potensi pembujukan untuk melanggar kontrak.
Justice for Players mengungkapkan bahwa mereka akan bekerja sama dengan firma hukum Dupont-Hissel, yang didirikan oleh pengacara Jean-Louis Dupont.
Dupont dikenal luas karena kemenangan besarnya dalam kasus Bosman pada 1995, yang memberi kebebasan kepada pemain Uni Eropa untuk pindah klub di akhir kontrak tanpa harus membayar biaya transfer. Dupont-Hissel juga mewakili Diarra dalam kasus hukum terhadap FIFA.