Baca Koran curupekspress Online - bacakorancurup.com

Viral Isu Tempe Impor Picu Kanker, Ini Fakta Ilmiahnya Menurut Pakar !

IST Tempe yang terbuat dari kedelai impor--

BACAKORANCURUP.COM  - Beberapa waktu terakhir, jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya klaim yang menyatakan bahwa tempe yang dibuat dari kedelai impor dapat memicu penyakit kanker.

Informasi ini dengan cepat menyebar dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Dalam narasi yang beredar, disebutkan bahwa seluruh kedelai impor yang digunakan sebagai bahan dasar tempe merupakan hasil dari rekayasa genetika, atau dikenal dengan istilah Genetically Modified Organism (GMO), serta diduga mengandung residu bahan kimia berbahaya berupa glyphosate, zat aktif dalam herbisida yang dituding sebagai pemicu utama kanker.

Menanggapi keresahan publik, Guru Besar di bidang Keamanan Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Ahmad Selaeman, memberikan klarifikasi yang menyejukkan.

BACA JUGA:Ilmuwan China Temukan Cara Ubah Metanol Jadi Gula

BACA JUGA:Jus Nanas Ampuh Redakan Batuk dan Pilek, Solusi Alami yang Terbukti Ilmiah !

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan yang menyatakan bahwa produk pangan hasil rekayasa genetika dapat menyebabkan kanker pada manusia.

Menurutnya, produk GMO telah melalui berbagai tahapan evaluasi yang ketat, baik dari sisi keamanan, kesehatan, maupun dampaknya terhadap lingkungan, sebelum akhirnya dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

Lebih lanjut, Prof. Ahmad menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia selama puluhan tahun telah mengonsumsi berbagai produk makanan berbasis GMO, tanpa adanya laporan atau temuan medis yang mengindikasikan bahaya serius. Produk-produk tersebut meliputi roti, biskuit, dan mi instan berbahan dasar gandum hasil modifikasi genetik, serta sayuran seperti tomat, jagung, dan kentang yang bibitnya berasal dari teknologi GMO.

“Begitu pula dengan tempe dan tahu yang dibuat dari kedelai impor. Meskipun bahan bakunya merupakan hasil rekayasa genetika, hingga saat ini saya belum menemukan literatur atau penelitian klinis yang membuktikan bahwa konsumsi produk tersebut dapat menimbulkan kanker,” ujar Prof. Ahmad dalam keterangan persnya pada Selasa (15/7/2025).

Ia juga menambahkan bahwa bibit hasil rekayasa genetika umumnya dikembangkan untuk menjawab tantangan global di bidang ketahanan pangan, khususnya dalam menghadapi ancaman perubahan iklim, ledakan populasi, dan gangguan dari serangan hama.

Menurutnya, salah satu keunggulan dari bibit GMO adalah efisiensi dalam proses budidaya, karena memerlukan penggunaan pestisida dan herbisida yang lebih sedikit dibandingkan bibit konvensional.

Selain itu, produksi pangan berbasis GMO juga cenderung lebih stabil dari sisi hasil panen, yang pada akhirnya dapat membantu menjamin ketersediaan pangan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Tempe Indonesia (FTI), Hardinsyah, turut memberikan tanggapannya terhadap isu yang berkembang.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan