Elva Mardiana: Perempuan Pertama yang Menjabat Sekda Rejang Lebong, Ini Sosoknya
Momen Elva Mardiana dilantik oleh bupati fikri menjadi Penjabat Sekda Rejang Lebong.-Razik/CE -
BACAKORANCURUP.COM - Di tengah hiruk pikuk kesibukan birokrasi Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, sosok perempuan berwajah teduh itu selalu datang lebih pagi dari pegawai lainnya.
Tangannya memegang berkas, langkahnya cepat namun tenang, matanya menyapu sekeliling ruangan memastikan segalanya siap untuk bekerja. Ia adalah Elva Mardiana, S.IP., M.Si., perempuan pertama yang menorehkan sejarah sebagai Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Rejang Lebong.
Bagi sebagian orang, jabatan Sekda kerap diidentikkan dengan sosok laki-laki yang keras dan berwibawa. Namun Elva mematahkan pandangan itu. Ia hadir dengan ketegasan yang lembut, disiplin yang konsisten, serta ketulusan yang memancar dari gaya kepemimpinannya.
BACA JUGA:Pakai Narkoba, Sepasang Suami Istri Kembali Dibekuk Polres Rejang Lebong
BACA JUGA:Pengerjaan Program Cetak Sawah Baru Capai 251 Hektare, Ditargetkan Rampung Tepat Waktu
“Saya percaya, birokrasi yang berintegritas lahir dari hati yang tulus untuk melayani,” ujarnya suatu pagi usai memimpin rapat di ruang Sekretariat Daerah.
Perjalanan karier Elva tidak instan. Sejak akhir 1990-an, ia menapaki jalan panjang di dunia pemerintahan. Berawal dari staf pemerintahan desa, camat di beberapa kecamatan, hingga menjabat kepala dinas di berbagai instansi.
Ketekunan dan dedikasi yang ia tunjukkan akhirnya mengantarkan dirinya pada posisi tertinggi dalam struktur aparatur sipil di Kabupaten Rejang Lebong.
BACA JUGA:Daging Merah Boleh Kok, Asal Tahu Batasnya ! Ini Panduan Sehat dari Ahli Jantung
BACA JUGA:Pasca Insiden Bocah Tenggelam, Dispar RL Akan Evaluasi dan Tingkatkan SOP
“Saya tidak pernah berpikir menjadi Sekda, apalagi perempuan pertama. Saya hanya berusaha bekerja sebaik mungkin di mana pun saya ditempatkan,” tutur Elva dengan senyum hangat.
Namun di balik prestasinya, Elva juga seorang ibu dari empat anak dan nenek dari satu cucu. Rutinitasnya dimulai sebelum matahari terbit — menyiapkan sarapan, memastikan anak cucu berangkat dengan doa, lalu bergegas ke kantor. “Saya tidak membawa pekerjaan ke rumah. Di rumah, saya milik keluarga. Tapi di kantor, saya milik masyarakat,” katanya lugas.
Gaya kepemimpinan Elva dikenal tegas dan penuh disiplin, namun tidak kehilangan sisi kemanusiaan. Setiap Senin pagi, ia menjadi orang pertama yang berdiri di lapangan upacara, memastikan seluruh ASN hadir tepat waktu. Ia juga aktif memantau absensi digital dan menegakkan aturan tanpa pandang bulu.
Namun di balik ketegasannya, Elva dikenal dekat dengan bawahannya. Ia sering memotivasi staf muda untuk berani tampil, berpikir kreatif, dan tidak takut menyampaikan ide. “ASN itu bukan robot. Mereka manusia yang perlu dihargai dan diberi ruang berkembang,” ucapnya penuh keyakinan.