Kebutuhan Hunian Korban Banjir Capai 90.000 Unit, Ini Penjelasan Prabowo
Prabowo rapat-ist-
BACAKORANCURUP.COM - Presiden Prabowo Subianto memperkirakan kebutuhan hunian bagi korban banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh mencapai sekitar 90.000 unit rumah. Perkiraan tersebut berdasarkan laporan kerusakan berat pasca bencana di tiga provinsi tersebut.
“Dilaporkan kepada saya bahwa kebutuhan rumah di seluruh tiga provinsi itu sekitar 90.000 unit, khusus untuk rumah-rumah yang rusak berat,” ujar Prabowo saat meninjau pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo mengapresiasi kinerja Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang nilainya mampu bekerja cepat dalam pembangunan hunian pascabencana.
Ia menyebut, dalam waktu singkat Danantara telah membangun sekitar 600 unit rumah bagi masyarakat terdampak.BACA JUGA: Tahun Pertaruhan, Oleh: Dahlan Iskan
BACA JUGA:Harga Jay Idzes Meledak 13 Kali Lipat di Serie A
“Saya berterima kasih kepada Danantara. Membangun sekitar 600 hunian dalam waktu singkat itu merupakan suatu prestasi,” kata Prabowo.
Presiden juga meminta Danantara untuk memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah, agar pelaksanaan pembangunan tidak tumpang tindih.
“Saya minta Danantara berkoordinasi erat dengan BNPB, pemerintah daerah, gubernur, dan bupati, supaya tidak terjadi tumpang tindih. Harus jelas siapa membangun di titik mana,” ujarnya.
Menurut Prabowo, koordinasi yang ketat diperlukan agar seluruh sumber daya dapat dimanfaatkan secara efektif dan tepat sasaran.
BACA JUGA: Libur Tahun Baru 2026, Kawasan Wisata Rejang Lebong Dipadati Pengunjung
BACA JUGA: Terseret Banjir, Petani Tewas Tersangkut Dibatang Kopi
“Semua harus diarahkan secepat mungkin untuk membantu rakyat kita, tidak boleh mubazir,” tegasnya.
Selain pembangunan hunian, Prabowo juga mengapresiasi percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, khususnya jembatan yang rusak akibat bencana.
“Saya sangat terkesan. Jembatan yang biasanya membutuhkan waktu satu bulan, ini bisa diselesaikan hanya dalam 10 hari,” pungkasnya.